LETTO on Facebook

Sebelum Cahaya (Video Clip)

Friday, December 28, 2007

Arian & Dinni (19.12.2007)

bertepatan dengan malam takbiran hari raya iedul adha (19.des.2007) kemarin, arian alias ari prastowo, pencabik bas letto melangsungkan resepsi pernikahannya di pendopo suryo puri kawasan jalan kadipaten jogjakarta, paginya arian telah melangsungkan akad nikah dengan retno andini alias dinni yang sebelumnya bergabung dengan management letto juga.

terlihat hadir saat itu semua personil letto plus management plus keluarga kiai kanjeng juga, dari musica ada beberapa termasuk pimpinan musica studios bu acin dan pak handi.

selamat buat arian dan dinni yang memulai kehidupan baru dan mengarungi samudera pernikahan yang penuh dengan riak dan gelombang serta badai kehidupan, semoga langgeng...

foto-foto selengkapnya yang berhasil kita ambil di: SINI

Tuesday, December 11, 2007

Letto @ December 2007


02 12 2007: Syuting Video Klip "Permintaan Hati", Jakarta
07 12 2007: Pupuk Kaltim Performance, Kalimantan Timur
08 12 2007: Pupuk Kaltim Performance Kalimantan Timur
10 12 2007: LA Lights Up Your Soul, UNDIP, Semarang
11 12 2007: LA Lights Up Your Soul, UNS, Surakarta
13 12 2007: Arisan FEMALE Radio, Jakarta
14 12 2007: Rehearsal Ultah Trans TV, Plenary Hall, Jakarta
15 12 2007: Ultah Trans TV, Plenary Hall, Jakarta
25 12 2007: Show Belitung, Belitung

more info: www.the-letto.blogspot.com

Thursday, November 29, 2007

Letto rakam lagu Sukan Olimpik

Sumber: Utusan Online Malaysia (NOR FADZILAH BAHARUDIN)

Kumpulan seberang yang popular dengan lagu Ruang Rindu, Letto kembali semula ke Malaysia. Namun kedatangan mereka kali ini bukanlah untuk mempromosikan album terbaru mereka.

Sebaliknya kunjungan kali ini adalah untuk merakamkan lagu tema Sukan Olimpik 2008 berjudul Olimpik Di Beijing versi Melayu.

Olimpik Di Beijing merupakan lagu ciptaan komposer dari Hong Kong iaitu Ng Kok Keng. Liriknya untuk versi Melayu telah dicipta oleh Amran Omar.

Bukan Letto sahaja terlibat dalam projek tersebut, malah Ahli Fiqir dan beberapa artis Malaysia seperti Jaclyn Victor, Ning Baizura dan Faizal Tahir turut serta dalam projek itu mewakili artis-artis Asia.

Berbangga kerana dapat bersama-sama artis-artis tempatan yang lain, kata vokalis Letto, Noe: “Bagi kami ini merupakan satu projek yang bagus kerana kita dapat bersama menyumbang suara dalam satu lagu. Bukannya selalu kita boleh dapat peluang begini.

Mungkin juga ramai yang akan tertanya-tanya mengapa Letto memilih untuk merakamkan lagu tersebut di sini.

Jelas seorang lagi anggotanya, Patub: “Kebetulan kami ke mari kerana terlibat dengan sebuah persembahan. Lantas kami mengambil peluang itu untuk merakamkan sahaja lagu tema Olimpik di sini.

Menyambung perbualannya kata Patub, tiada perbezaan merakamkan lagu di Malaysia atau di Indonesia.

Kami lihat sama sahaja style rakamannya. Cuma bezanya terletak pada penerbit kita. Sama ada mereka serius atau tidak,” katanya.

Sumbangan untuk orang buta
Menurut Noe, album kedua kumpulan itu berjudul Don’t Make Me Sad telah pun berada di pasaran seberang.

Menunggu masa yang sesuai untuk dipasarkan di pasaran tempatan kata Noe, album kali ini pengisiannya lebih matang.

Malah lirik-liriknya mempunyai maksud tersendiri. Mempunyai 10 buah lagu, konsep album itu masih sama seperti album pertama kami,” katanya. Sebahagian daripada hasil jualan album tersebut, katanya akan disumbangkan kepada persatuan orang-orang buta di Indonesia.

Insya-Allah sumbangan itu akan digunakan untuk membuat braille,” kata Noe.

Empat Bulan, Letto Sukses Raih Double Platinum

Sumber: Kapanlagi (05 November 2007)

Bintang Letto kian bersinar terang tahun ini setelah album teranyarnya DON’T MAKE ME SAD menembus angka penjualan lebih dari 300 ribu copy. Album yang baru dirilis Agustus dan mengunggulkan lagu Sebelum Cahaya sebagai single hitnya ini akhirnya meraih penghargaan Double Platinum dari label yang menaunginya, Musica Studio.

Kerja keras Noe, dkk ini tak sia-sia untuk membuat album ketiganya ini lebih berbobot. Album ini dibuat melalui proses recording di Jogja, sementara mixing dan mastering dilakukan di Jogja dan Jakarta.

Dalam penyerahan anugerah yang dilakukan Indrawati Widjaja, bos Musica Studio, pada acara 'Letto by Request' di studio Penta SCTV, Sabtu (3/11) malam, Noe memaparkan rasa syukur dan bahagianya dengan album yang lebih mengedepankan sisi emosinya ini dan totalisme para personilnya dalam menggarap album ini.

"Syukur alhamdulillah, karya kami sangat dihargai. Ini tonggak bagi kami untuk menghasilkan karya yang lebih baik daripada ini. Sekali lagi alhamdulillah, kami diberi kemampuan untuk menggali potensi seni kami. Walau dengan proses yang singkat, kami bisa meraih hasil yang maksimal," ungkap Noe yang bangga lagu unggulan Sebelum Cahaya yang hanya dikerjakan dalam waktu tiga hari itu diterima bahkan digunakan sebagai salah satu soundtrack sinetron.

Sepakat dengan sang vokalis, para personil Letto lainnya, Arian (bas), Patub (gitar), dan Dedhot (drum) tetap tak ingin berbesar hati dan menganggap penghargaan yang diraih adalah berkah dan motivasi untuk berkarya lebih baik lagi.

Sebelumnya, band asal Yogya ini merilis album pertama bertajuk Truth, Cry, and Lie yang dirilis pada 2006, yang beberapa lagunya juga menjadi hits, seperti Sandaran Hati dan Ruang Rindu.

Letto Rekaman Lagu Olimpiade di Malaysia

Sumber: Kapanlagi (28 November 2007)

Grup musik asal Yogyakarta, Letto, datang kembali ke Kuala Lumpur Malaysia untuk membuat rekaman lagu bertemakan olahraga Olimpiade 2008 di Beijing versi Melayu.

Lagu-lagu itu bertemakan olahraga ciptaan komposer dari Hong Kong, Ng Kok Keng, sedangkan liriknya untuk versi Melayu telah dikarang oleh Amran Omar, lapor harian Utusan Malaysia, Rabu (28/11).

Bukan Letto saja yang terlibat dalam proyek tersebut, tetapi juga beberapa group musik Malaysia seperti Ahli Fiqir dan beberapa artis Malaysia seperti Jaclyn Victor, Ning Baizura, serta Faizal Tahir yang mewakili artis-artis Asia.

Bangga dapat bekerjasama dengan artis-artis Malaysia lainnya, vokalis Letto, Noe mengatakan, "Bagi kami ini merupakan satu proyek yang bagus karena kita dapat bersama menyumbang suara dalam satu lagu."

"Kebetulan kami ke Kuala Lumpur untuk sebuah konser. Lantas kami mengambil peluang itu untuk merekam lagu bertema olahraga di perusahaan rekaman Malaysia dan mengundang artis sini untuk buat rekaman bareng," ujar Noe.

Wednesday, November 28, 2007

Panasonic Awards 2007


malam penghargaan buat insan pertelevisian tahunan yang bertajuk "panasonic awards 2007" bakal digelar hari jumat (30.11.2007) mulai jam 8 sampai jam 11 malam. bertempat di assembly hall jhcc jakarta akan diramaikan beberapa artis seperti nidji, letto, peterpan, ungu, matta, titi dj, gita gutawa dan delon+ihsan+dirly+rini idol serta band pengiring erwin gutawa orchestra.

acara ini akan disiarkan secara langsung di jaringan televisi milik mnc seperti rcti, tpi dan global tv pada jam yang sama.

Tuesday, November 20, 2007

Platinum Award For Don't Make Me Sad


sejak peluncurannya secara resmi di bulan agustus 2007 sampai november 2007, praktis hanya butuh waktu 3 bulan saja album don't make me sad dari letto menembus angka penjualan sebanyak 150.000 keping.

hari itu sabtu (03.11.2007) letto dianugerahi platinum award buat prestasinya di acara big hits di stasiun tivi sctv. bos musica bu acin secara langsung dan mengejutkan menyerahkan awards tersebut, kita jadi ingat di studio yang sama tahun lalu bu acin juga menganugerahi album truth cry & lie dengan platinum award.

untuk album truth cry & lie butuh waktu lebih lama buat ngedapetin anugerah ini, meski akhirnya tembus ke angka 300.000 keping alias dapet double platinum.

dengan catatan ini data resmi dari musica dan belum termasuk album bajakan berbentuk cd, mp3 & vcd bahkan download di internet yang makin mudah ditemukan bahkan dalam hari yang sama CD atau kaset dilempar ke pasar.

selamat buat letto... smoga tetep membumi.... merakyat.... dan tetep ndeso....

[MORE PHOTOs]

Sebelum Cahaya (Live at Big Hits SCTV)



Event: Bigs Hits SCTV
Location: Studio Penta
Date: 03.11.2007
Recoreded By: Tamtomo

Friday, November 16, 2007

LA Lights Concert Lights Up Your Soul

Letto akan tampil di kampus-kampus di acara LA Lights Concert Lights Up Your Soul antara lain:

Di Trisakti Jakarta (07.11.07)
Univ.Pancasila Jakarta (13.11.07)
Maranata Bandung (20.11.07)
Unas Jakarta (21.11.07)
Unitomo Surabaya (27.11.07)
UPN Surabaya (28.11.07)
Undip Semarang (10.12.07)
UNS Solo (09.12.07)

Letto di BAFF 2007 dan BSD


Hari Senin (19.11.2007) jam 19.00 -21.00 akan tampil di acara BAFF2007 (Bandung On Apparel & Fashion Festival) yang di gelar di Sabuga Bandung mulai tanggal 16 sampai tanggal 19 November 2007.

Selain Letto, tampil juga di hari yang lain: Goodnight Electric, Rossa & Vincent Vega.

Selain Di Sabuga, tanggal 20.11.2007 (Selasa), Letto tampil di Universitas Maranatha Bandung di acara LA Lights Concert.

Hari Sabtu (17.11.2007) Letto akan tampil di launching salah satu kawasan perumahan di Tangerang yaitu di Kawasan BSD City.

Friday, November 02, 2007

Letto @ November 2007


03 11 2007: SCTV By Request, SCTV, Jakarta
05 11 2007: Show Indosiar (tentative)
07 11 2007: LA Lights Campus Indonusa, Jakarta
08 11 2007: Tamu Istimewa, Global TV
09 11 2007: Friday I'm In Love (Radio), Jakarta
10 11 2007:Hari Pahlawan, Trans TV, Jakarta
11 11 2007: Show Charity, Makassar
13 11 2007: LA Lights Campus Mercubuana, Jakarta
14 11 2007: Show Charity, Jogja
15 11 2007: LA Lights Campus, Bandung
16 11 2007: Tapping RCTI, Jakarta
18 11 2007: Bank Mandiri, Jakarta (tentative)
19 11 2007: Show, Bandung (tentative)
21 11 2007: LA Lights Campus UNAS, Jakarta
22 11 2007: TV / Radio / Cetak, Jakarta (tentative)
23 11 2007: Departure, Kuala Lumpur
24 11 2007: Digi Street Blast, Kuala Lumpur
25 11 2007: Arrival, Kuala Lumpur
26 11 2007: Tapping, GlobalTV (tentative)
27 11 2007: LA Lights Campus UBAYA, Surabaya
28 11 2007: LA Lights Campus, Unitomo, Surabaya
29 11 2007: TV / Radio / Cetak, Jakarta (tentative)
30 11 2007: Panasonic Award, RCTI

Tuesday, October 30, 2007

Tuesday, October 23, 2007

"Hantui Aku" di Taman Wisata Mekarsari


minggu, 21.10.2007 tepat jam 2 siang, leto tampil ngisi acara di taman wisata mekarsari, cileungsi (deket kawasan kota wisata cibubur). ada 10 lagu yang dibawain dari album pertama truth cry & lie dan album baru don't make me sad.

dari album pertama bawain hits seperti sandaran hati, ruang rindu, sampai nanti sampai mati dan truth cry & lie sebagai pembuka acara. sedangkan dari album kedua letto bawain lagu ngebeat my liberty my good bye yang diterusin ama kau aku dan obsesiku. sebelumnya mereka bawain hantui aku, sebelum cahaya, bunga di malam itu dan memiliki kehilangan.

di bawah hujan deras yang mengguyur venue tak menyurutkan antusias penonton yang jumlahnya ribuan, lagian hari itu hari terakhir liburan lebaran. para kru letto termasuk bos aldi sibuk menyelamatkan peralatan yang terkena ujan termasuk drum-nya dedy yang basah selain bass-nya arian & gitar patub. kalo noe tetep ke depan panggung meski dengan berbasah-basah ria gak mau kalah ama plettonic yang di bawah.

tepat jam 3 sore mereka menyudahi acara dan langsung dilarikan ke gedung menara air di kasawasan wisata mekarsari.

ada beberapa penampilan letto yang sempet kerekam dan foto-fotonya bisa diliat di:

Galeri Foto
Video Memiliki Kehilangan
Video My Liberty Good Bye - Kau, Aku & Obsesiku
Video Hantui Aku

Monday, October 22, 2007

Memiliki Kehilangan (Video Live at Mekarsari)


video yang diambil saat performance letto di taman wisata mekarsari hari minggu (21.10.2007) kemarin. di sela-sela ujan deres mereka tampil meriah di hadapan ribuan penonton yang tetap berjubel di bawah panggung meski basah-basahan.

Memiliki Kehilangan
(Song / Lyric : Noe)

Tak mampu melepasnya walau sudah tak ada / Hatimu tetap merasa masih memilikinya / Rasa kehilangan hanya akan ada / Jika kau pernah merasa memilikinya

Pernahkah kau mengira kalau dia kan sirna / Walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa / Rasa kehilangan hanya akan ada / Jika kau pernah merasa memilikinya

My Liberty, Good Bye - Kau, Aku & Obsesiku (Video Live)


video yang diambil saat performance letto di taman wisata mekarsari hari minggu (21.10.2007) kemarin. di sela-sela ujan deres mereka tampil meriah di hadapan ribuan penonton yang tetap berjubel di bawah panggung meski basah-basahan.

lagu yang dinyanyiin secara medley, my liberty my goodbye dan kau, aku & obsesiku.

My Liberty, Good Bye
(Song / Lyrics : Noe)

I begin to wonder / When will I see the sign / Making all this blunder / And start losing my mind.

It was you all along / Who bug me far too long / Yes I'm in love / Bring my sanity back to love

May I ask your color / Before I start to paint / Can I hear your laugfiter / Before I start / To faint

Oh sanity / Where have you gone / My liberty, good bye

Kau, Aku dan Obsesiku
(Song : Patub, Lyric: Noe)

Merasuk malam ini kau merasukiku / Terhasut dalam pikiranku kini / Tersenyum seolah kau menginginkan aku / Tetapi siapa yang tahu hati

Kau, aku dan obsesiku / Hanya Tuhan yang akan tahu / Tapi jangan kau tertipu / Kan ku simpan sampai akhir waktu

Gemerlap bintang yang ada di malam ini / Sekejap terasa sangat sempurna / Ucapan kata yang terlontar oh indahnya / Aku, aku sangat terlena

Hantui Aku (Live at Taman Wisata Mekarsari)

video yang diambil saat performance letto di taman wisata mekarsari hari minggu (21.10.2007) kemarin. di sela-sela ujan deres mereka tampil meriah di hadapan ribuan penonton yang tetap berjubel di bawah panggung meski basah-basahan.

Hantui Aku
(Song & Lyric: Noe)

Matahari pagi / dan embun yang dingin / hari ini / ooh indahnya

kuharus memulai / kerinduan lagi / hari ini karena

kangenku memang tak tahu malu / apalagi kalo sedang diracun madu / tolong aku

Ohh.. / Ku tak tahu
Ohh / Ku tak mau tahu

Tapi memang / Senyummu selalu hantuiku / Oh please / Jangan pernah kau berhenti / Hantui aku

hari ini / ooh sejuknya / engkau masih disini / isi lamunanku / hari ini / oh dia

hatiku memang tak mau tahu / apalagi kalau sedang dimabuk rindu / tolong aku

ohh.. / aku mau / ohh.. / ketemu lagi kamu

tapi memang / dirimu selalu hantuiku / walau ku tak tahu / hatimu

ohh please / jangan pernah kau berhenti /hantui aku


Thursday, October 18, 2007

I'm Going To Pesta Blogger 2007

Pesta Blogger 2007

barusan gw terima imel dari chairman pesta blogger 2007 tentang keikut sertaan blog ini:


mungkin ada yang mau menominasikan blog ini untuk ikutan lomba blog favorit di pesta blogger 2007? klik aja keterangan lebih lanjut di: http://www.pestablogger.com/


Monday, October 01, 2007

Rasanya Dihantui "Letto"

Ku harus memulai kerinduan lagi/ Hari ini/ Karena/ Kangenku memang tak tahu malu/ Apalagi kalo sedang diracun madu/ Tolong aku
Nukilan lirik lagu Hantui Aku dalam album kedua milik kelompok band Letto, Don’t Make Me Sad, produksi Musica Studio’s, mungkin sederhana. Noe, vokalis grup ini, ingin mengatakan, madu yang selalu dianggap manis itu bisa meracuni. Manisnya bisa keterlaluan. Dalam lagu yang bertutur tentang seseorang yang dihantui orang lain ini, Noe ingin mengungkapkan bahwa madu tidak harus selalu menyenangkan.

Namun, lirik-lirik lagu Letto sejatinya adalah kekuatan kelompok ini, selain unik lagunya tidak terlalu sulit dilantunkan. Lirik yang disuguhkan Letto bisa ditafsir secara berbeda oleh orang lain, sama seperti album pertama, Truth, Cry, and Lie. Tentu belum lepas dari ingatan, lagu Ruang Rindu atau Sandaran Hati, yang sampai kini masih laris dipakai sebagai nada dering telepon seluler.

Simak lirik lagu Memiliki Kehilangan.
Tak mampu melepasnya walau sudah tak ada/ Hatimu tetep merasa masih memilikinya/ Rasa kehilangan hanya akan ada/ Jika kau pernah merasa memilikinya.
Sebuah permainan kata yang filosofis meski bukan pemikiran baru.

Lirik-lirik lagu Letto ini ”bersaing” dengan lirik seperti Woo Kamu Ketahuan/ Pacaran Lagi dengan Si Dia/ Teman baikku milik grup Matta atau Pacarku cintailah aku/ Seperti aku cinta kamu/ Tapi kamu kok selingkuh milik Kangen.

Tema tentang cinta bisa ditulis dengan jutaan rangkaian kata. Inspirasi mencipta tema lagu buat grup-grup band bisa jadi sama, semisal dengan mengamati peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. Namun, eksekusinya bisa berbeda. Lain Letto, lain pula Kangen atau Peterpan, misalnya.

Terlalu banyak yang bisa ditulis,” kata Noe, yang mengaku tidak mempunyai referensi mengenai kesusastraan. Jika ada yang menafsir lirik yang dibuatnya puitis atau bahkan sufistik, Noe mengembalikan kepada pendengarnya.

Inspirasi bisa didapat dari mana saja, misalnya kehilangan HP, ada kucing lewat, atau tertangkap polisi. Yang jelas, kami tidak pernah berhenti belajar, apa pun bisa kami pelajari,” jelas Noe. ”Kesadaran kami adalah menyediakan wacana biar orang lain bisa menggalinya. Kami buka pintu agar orang mempunyai interpretasi sendiri,” imbuhnya.

Banyak bumbu
Dibanding album pertama, album Don’t Make Me Sad yang prosesnya dibuat selama delapan bulan ini makin bisa mewakili banyak kalangan. Ada lagu yang bisa disukai remaja, seperti Hantui Aku. Bagi yang suka bermain-main kata, Memiliki Kehilangan akan pas. Buat yang demen lagu nge-beat dengan lirik bahasa Inggris, lagu My Liberty Good Bye akan terasa pas.

Lagu Sebelum Cahaya, single pertama album ini, bisa dikatakan mewakili kalangan lebih luas. Dengan paduan chord minor dan mayor, lagu ini mudah dihafal, syahdu, dan meliuk-liuk seperti orang mengaji. ”Harapannya, lagu-lagu kami semakin bisa menemani lebih banyak situasi,” tutur Patub, gitaris band ini.

Bagi Arian, pemain bas, referensi musik yang bertambah membuat cara mereka melihat lagu pun berkembang. ”Misalnya ada yang mendengar grup indie-nya Inggris yang tidak terkenal, tapi kok bagus. Itu memberi wacana dan referensi. Semakin banyak bumbu makin enak asal porsinya pas,” sambung Noe.

Referensi musik itu kemudian mewarnai nada, progresi chord, dan beat yang dipilih Letto. Warna musik Letto menjadi terasa unik. ”Namun, khas itu tidak dibikin-bikin, enggak direkayasa. Yang membuat kami unik karena kami menjadi diri sendiri,” terang Noe.

Ngomong-omong, apa yang membuat khas juga termasuk lirik berbahasa Inggris itu? ”Karena sejak album kompilasi menggunakan syair bahasa Inggris, lalu ada ekspektasi dari pendengar agar di album ini kami juga menggunakan bahasa Inggris,” ujar Noe.
She really drives me mad/ but it wasn’t all that bad/ 2 seconds to make me surrender and said/ oh please don’t make me so sad.
source: kompas

Tuesday, September 25, 2007

Noe 'Letto' Bangga jadi Anak Cak Nun

Jakarta, Jadi anak salah satu budayawan Indonesia, tantang tersendiri bagi Noe, vokalis Letto. Walau ngaku pernah diledek, Noe bangga jadi anak Cak Nun.

Siapa yang tak kenal Emha Ainun Najib atau yang akrab disapa Cak Nun. Logat puitis sedikit banyak kini menular pada Noe. Coba saja simak lirik lagu-lagu Letto yang kebanyakan dikarang Noe.

Jadi anak Cak Nun diakui Noe tak ada bedanya dengan orang tua lain. Hal itu sama sekali tak pernah jadi beban untuk Noe.

"Aku biasa aja sama kayak teman-teman lain. Mungkin yang membedakan ya itu, aku anaknya Cak Nun. Tapi itu nggak aku jadiin beban kok, ya biasa aja," ujar Noe kepada detikhot ditemui di Musica Studio, Jl. Perdatam No. 3 Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (10/9/2007).

"Cuma ya ada lah diledek-ledekin. Noe anak penyair, wah anak ustad nih. Ya aku sih senang-senang aja. Bangga gitu lho," tutur Noe lugas.

Menjalani ibadah puasa dalam keluarga Noe juga dirasakan pelantun 'Ruang Rindu' itu tak berbeda dengan yang lain. Namun kedisiplinan beribadah jelas harus dijalankan.

"Target aku di bulan puasa ini mau lunas 30 hari. Aku udah biasa kok. Ngeband-ngeband boleh asal jangan lupa shalat aja," tutup Noe. (yla/yla)

source: detikhot

Letto Kejar Setoran Buat Kawin

Jakarta, Belakangan ini Letto mengaku sedang gencar-gencarnya kejar setoran. Tujuannya ternyata untuk satu misi. Para personel Letto ingin segera mengakhiri masa lajangnya.

"Iyalah kita kan begini untuk kawin juga," ujar Noe sang vokalis ketika berbincang dengan detikhot di Musica Studio, Jl. Perdatam No. 3, Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (10/9/2007).

Noe, Dedi, Patub dan Ari saat ingin mengaku tak lagi jomblo. Maka target untuk segera mengakhiri masa lajang pun sudah dipatok oleh masing-masingnya. Jadi ngebet nih?

"Ngebet mah nggak, tapi itu juga tujuan hidup lho. Ya yang penting ngalir aja seperti air di telaga," tandas Noe.

Ketika ditanya soal calon, Letto menjawab sekenanya. "Yang penting kawin dulu lah," tutur mereka.(yla/dit)

source: detikhot

Saturday, September 22, 2007

Letto By Request

Sabtu, 22 September 2007,
Pukul 23.00 - 01.00 WIB,
Studio SCTV Jakarta.

UNTUK memenuhi kerinduan para penggemar fanatik Letto, SCTV menayangkan sebuah sajian istimewa bertajuk "Letto by Request". Penampilan band asal Kota Gudeg kali ini akan dikemas sedikit berbeda. Para personil Letto yang hadir di studio SCTV, akan berdialog langsung dengan pemirsa, mengajak bernyanyi, dan melayani setiap permintaan lagu.

Pasti seru, karena selain mendengarkan lagu-lagi hits Letto, pemirsa juga akan mengetahui kisah sukses perjalanan karier sang superstar, berikut liku-likunya. Jangan lewatkan penampilan mereka hanya di SCTV Satu untuk Semua.

Daftar Lagu:
1. Bunga di Malam Itu
2. Hantui Aku
3. Memiliki Kehilangan
4. Sampai Nanti Sampai Mati
5. Sandaran Hati
6. Sebelum Cahaya
7. Sebenarnya Cinta

source: sctv.co.id

Thursday, September 20, 2007

Letto Tribute To Chrisye



Hari minggu kemarin, bertepatan dengan ulang tahun ke 58 almarhum Chrisye alias Chrismansyah Rahadi tanggal 16.09.2007, di Studio satu Trans TV Jakarta dilakukan rekaman acara CHRISYE MASTERPIECE buat mengenang almarhum dengan karya musiknya. Chrisye meninggal tanggal 30.03.2007 dan menghasilkan karya musik mulai tahun 1976 dengan single Lilin-lilin Kecil, 1977 saat bergabung dengan Guruh Gipsy dan album-album solo yang diproduksi sejak era 70-an, 80-an, 90-an dan 2000-an.

Kita datang ke Studio Trans TV jam 8 malam setelah acara Red Carpet selesai, lewat pintu artis dengan nyebut nama salah satu band langsung ke ruang tunggu yang merangkap ruang artis buat nemuin para personilnya. Jam 9 malam rekaman acara Chrisye Masterpiece dimulai.

Malam itu yang tampil dipanggung antara lain Peterpan, Letto, Nidji, Dewi Sandra, Titi DJ, Yuni Shara dan Project Pop serta Irfan Hakim-Novita Anggie sebagai host malam itu. Di barisan undangan VIP ada beberapa artis lain yang hadir dan memiliki kenangan dengan almarhum.

Rekaman dimulai dengan Peterpan yang bawain lagu Nona Lisa (album 1986) dan disambung dengan Letto dengan Aku Cinta Dia (album 1985) serta Dewi Sandra dengan Anak Sekolah (album 1986). Lagu legendaris Lilin-Lilin Kecil (1976) dibawain bareng-bareng trio Dewi Sandra - Titi DJ & Yuni Shara dengan suasana redup dengan puluhan lilin yang memenuhi panggung.

Session berikutnya Nidji tampil dengan Seperti Yang Kau Minta (Album Dekade, 2002) dilanjut ama Project yang bawain hits tahun 1985 Hip Hip Hura dengan gaya khas almarhum Christye ala tahun 80-an. Letto juga bawain lagu Serasa (Badai Pasti Berlalu, 1977) dengan gaya Letto sedangkan penampilan terakhir Nidji dengan Kala Sang Surya Tenggelam (1997).

Tunggu aja penayangan acara ini di Trans TV, ada beberapa foto yang kurang memuaskan karena diambil diam-diam (tau sendiri kalo di trans tv gak bisa motret).

Tuesday, September 11, 2007

Don't Make Me Cry



Pensi Teen, Bogor

dalam salah satu rangkaian acara pensi teen yang digelar dibeberapa sekolahan, kali ini kita ketemu dengan paea personil letto yang kebetulan lagi berada di kawasan mardiyuana, bogor. Pensi teen sebelumnya digelar di kawasan bekasi dan jakarta, acara ini didukung oleh majalah teen yang ngadain dibeberapa sekolah yang beruntung kedatengan letto dan beberapa artis lain.

di bogor, letto bawain beberapa lagu hits dari album truth cry & lie dan album terbaru don’t make me sad seperti permintaan hati, sebelum cahaya, sampai nanti sampai mati, sandaran hati dan ruang rindu.

rekaman videonya juga udah dapat diliat di: sebelum cahaya dan permintaan hati

foto lain juga dapat dilihat di: galeri foto letto

Bunga Di Malam Itu

Bunga Di Malam Itu, salah satu lagu milik LETTO yang diambilkan dari album Don’t Make Me Sad yang menggambarkan tentang pertemuan, pertemuan dengan orang yang dikasihi. Tapi sesungguhnya lirik lagu ini penuh makna, makana yang dalam banget, pertemuan dalam mimpi sang penulis lagu Noe Sabrang Mowo Damar Panuluh (yang tak lain adalah putra Cak Nun) dengan Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Dalam penulisan lagu, Noe memang selalu menulis secara puitis dan penuh makna alias dalem banget. Seperti lagu Sebelum Cahaya atau Sandaran Hati dari album sebelumnya (Truth, Cry & Lie)

Berikut cuplikan lirik lagu Bunga Di Malam Itu:

malam itu lah malamku
ketika aku bertemu denganmu
dalam hati ku tersedu
tanganku tergenggam menahan haru
mataku tak lepas darimu
walaupun ku sendiri ragu

*
bunga menebar sejuk wewangian malam itu
ku tak mampu menahan rasa yang tak menentu
lalu muncullah rasa di dalam benakku
ku tak pantas memandangi wajahmu

rindu itu belum hilang
walau pertemuan itu terkenang
dalam hatiku berdoa
jangan sampai aku pernah terlupa

padamu penjaga hidupku
tak pernah meninggalkan aku

Wednesday, September 05, 2007

Intro

Kontemplasi Letto

Mereka meramu warna musik melankolis dengan upbeat.
Sukses dengan album perdana, tak membuat Letto cepat-cepat membusungkan dada. Grup band kuartet asal Yogyakarta ini justru menjadikan album kedua mereka sebagai ruang kontemplasi dari para personelnya.

''Pada album kedua pihak Musica memberi kami kebebasan untuk mengeluarkan seluruh ide-ide kami, dan inilah album kedua kami yang merupakan hasil kontemplasi selama satu tahun,'' kata Noe yang menulis sebagian besar lirik lagu-lagu Letto.

Letto dihuni oleh empat anak muda. Noe, putra dari sastrawan, Emha Ainun Najib, tampil sebagai vokalis. Kemudian ada Pathub (gitar), Arian (bas), dan Dedy (drum). Pamor grup ini menjulang setelah dua lagu dari album pertama Letto, masing-masing bertajuk Ruang Rindu dijadikan soundtrack dari sinetron Intan dan Sandaran Hati dalam sinetron Wulan, keduanya tayang di RCTI.

Album kedua Letto diberi judul Don't Make Me Sad. Di album ini mereka menghadirkan 12 tembang yang kaya akan warna dan inspirasi bermusik. Di saat pamor Letto semakin terangkat, Pathub mengatakan, untuk melahirkan sebuah album ternyata bukanlah hal yang mudah.

''Lagu ini kami garap hanya dalam waktu delapan bulan. Bagi kami, ini sebuah persiapan yang sangat sempit waktunya dibanding proses menyiapkan album pertama dulu,'' kata sang gitaris, di Jakarta, pekan lalu. ''Tetapi bagaimanapun kami tetap berusaha menyempatkan waktu dan memberikan yang terbaik untuk album kedua ini,'' sambung dia kembali.

Berbeda dengan Samsons yang langsung melakukan lompatan besar dengan memproduksi album keduanya di tiga benua, Letto justru tidak ingin terjebak latah memproduksi album hingga ke luar negeri. Patub menceritakan semua proses produksi album baru mereka ini, termasuk proses mastering dan mixing, dilakukan di Jakarta.

Noe, sang vokalis yang sempat menimba ilmu di Amerika Serikat, menambahkan di album kedua ini Letto lebih ingin menekankan pada proses pencapaian ide dan kontemplasi terhadap keseharian. ''Secara keseluruhan album ini berisi hal-hal yang ada di sekitar kita. Kalau ada orang yang bilang maknanya dalam dan menyentuh, sebenarnya merupakan pengalaman pribadi orang tersebut,'' kata dia menjelaskan.

Ia menambahkan bahwa dari 12 lagu terselip empat tembang yang dikemas dalam konsep melodi melankolis. Empat lagu yang aransemennya dikemas dalam tempo sedang, dan empat lagu lainnya digarap secara upbeat.

Lagu andalan
Untuk single hit dari album ini, Letto menempatkan tembang 'Sebelum Cahaya'. Lirik lagu ini berkisah tentang seseorang yang merasa kesepian, karena ditinggalkan teman. ''Padahal sesungguhnya dalam kesendirian itu masih ada Tuhan dan alam yang menemani,'' ujar Noe yang bernama lengkap Sabrang Mowo Damar Panuluh.

Tembang lain yang menarik disimak dalam album ini, di antaranya lagu berbahasa Inggris berjudul 'Ephemera'. Kemudian ada juga 'Bunga di Malam Itu' yang bertutur tentang indahnya pertemuan dengan Nabi Muhammad SAW, serta 'Permintaan Hati' yang berirama menghentak.

Pemimpin Musica Studio's, Indrawati Widjaja, mengungkapkan pihaknya berencana membuat lima video klip untuk album terbaru ini. ''Syair, jenis musik, dan warna vokal Letto memang sangat unik, semoga lagu-lagu mereka kembali bisa diterima para pecinta musik Indonesia,'' ujarnya berharap.

Widi, humas Musica Studio's, menambahkan pre order atau pemesanan tahap perdana dari album Don't Make Me Sad ini sudah mencapai 150 ribu keping. Kehadiran album kedua Letto ini ternyata bertepatan juga dengan 20 bulan setelah grup ini meluncurkan album pertama yang diberi tajuk Truth, Cry, and Lie yang berhasil menggondol double platinum, karena memperoleh penjualan hingga 450 ribu keping.

source: republika

Band Kampung di Panggung Kota

LETTO! Yah, band yang sekarang sedang banyak jadi omongan ini, sebenarnya tidak punya arti yang penting. Letto itu tidak punya makna khusus.
Ya memang tidak ada artinya,” kata Noe, vokalis juga orang yang menemukan nama itu dengan cara yang “tidak wajar” itu. Tidak wajar? Nama Letto didapatnya tanpa proses yang berbelit-belit. “Impulsif saja. Nama itu saya dapatkan ketika saya bangun tidur. Saya usulkan nama itu dan teman-teman setuju,” beber Noe sambil tersenyum.
Kami pilih Letto karena nama itu sama sekali nggak ada arti dan filosofiinya. Sengaja begitu biar nggak diartikan neko-neko saja. Lagipula buat kami nama itu tak punya fungsi selain sekadar identitas,” ujar Noe.

Sebelum menjadi sepeti sekarang, dipuja-puji, dikerubutin penggemar, Letto hanya band yang terbentuk lantaran personelnya rajin kongko di sebuah studio musik. Para personel Letto dulunya adalah teman satu sekolah, bahkan ada yang sekelas di SMU 7 Yogyakarta. Waktu itu sudah bermain musik tapi jenis etnis dan tradisional. Seusai merampungkan kuliah, kami berkumpul lagi dan sering nongkrong di Geese Studio di rumah Noe. Kami pun mulai menyentuh musik pop dan belajar membuat lagu. Maka terbentuklah Letto.

Kami ini teman satu SMA dan suka main musik. Suatu kali, kami dipercaya mengelola sebuah studio rekaman. Di kala studio sedang sepi, kami suka main musik dan bikin-bikin lagu. Dari studio itu kami belajar tentang audio dan teknik-teknik studio,” seru Arian. Sampai di sini belum ada niat serius bermusik. Niat serius baru muncul setelah didesak teman-teman mereka. “Teman-teman menyarankan kenapa nggak diseriusin saja lagu-lagu yang sudah jadi,” seru Arian lagi.

Personil awalnya tergolong awet. Ada nama Noe [vokal], bersama Patub (gitar), Arian (bas) dan Dedy (drum) yang sampai sekarang masih mengisi line-up band asal Jogjakarta ini. Sampai akhirnya mereka “iseng-iseng berhadiah” membuat lagu yang entah bagaimana ceritanya sampai ke tangan Noey Java Jive. Noey adalah produser yang melejitkan Peterpan dan beberapa band lainnya. Lantaran tertarik Noey menawarkan mereka ikut album kompilasi Pilih 2004 keluaran perusahaan rekaman Musica Studio’s. Lagu mereka yang masuk di album itu bertajuk I’ll Find Away.

Sampai di tahap itu, nama LETTO belum dikenal juga, termasuk di kampungnya sendiri, Jogjakarta. Apalagi ketika itu nama Peterpan sedang berkibar kencang. Alhasil, Letto malah jadi pertaruhan kira-kira bakal rekaman atau tidak. Banyak yang bilang tidak, awalnya.

Meski cukup sukses bermusik, tahukah kamu kalau awalnya orang tua personil Letto sempat ragu-ragu dengan pilihan hidup anak-anaknya? Yah, hari gini siapa sih yang mau melepaskan anaknya untuk hidup dari ngeband doang? “Ya, pada awalnya orang tua ragu pada pilihan kami menjadi pemusik. Biasa, alasannya karena tidak bisa dijadikan tumpuan hidup,” kata Noe. Seperti milsanya Noe sendiri. Meski keluarganya lekat dengan kebudayaan, tapi menjadi musisi bukanlah pilihan yang kuat. Apalagi Noe sendiri sempat mangambil kulaih matematika di Kanada, jadi kesempatan jadi musisi adalah pilihan “yang tidak menguntungkan” menurut keluarganya.

Kini, meski popularitas sudah digenggaman, toh keluarganya tak serta merta menyilakan mereka full time di musik. “Mereka memberikan dukungan meski tidak sepenuhnya. Lambat laun dukungan materi dikurangi mungkin agar kami lebih mandiri,” kata Patub lagi.

Tapi siapa sangka, tahun 2006, tiba-tiba kita dikagetkan dengan album ‘TRUTH, CRY AND LIE”. Awalnya masih nggak ngeh kalau yang rilis album ini adalah Letto yang pernah masuk kompilasi tahun 2004 silam. Apalagi liriknya “sok-sokan’ pakai bahasa Inggris pula. Soal album awal dan pilihan berbahasa Inggris, Noe punya alasan. “Pemilihan bahasa kami sama seperti saat kami memilih merek instrumen yang dipakai. Misalnya untuk gitar, ada Inabez, Jackson, Fender, dan sebagainya. Itu hanya masalah pilihan rasa yang disesuaikan dengan musik yang digarap. Tidak ada target karena dalam berkreasi kami berpedoman pada proses kreatif dan mengalir jujur sesuai kapasitas. Namun jika dari sisi industri, dengan menggunakan bahasa Inggris, tentu pasarnya lebih luas. Ini memberikan motivasi lain bagi kami,” jelasnya.

Bicara soal album pertamanya, memang unik. Album ini benar-benar mementahkan sinisme orang tentang band yang dianggap tidak bakal laku ini. LETTO akhirnya merilis album utuh yang herannya, sebenarnya lebih bagus dibanding band-band yang sekarang sedang digandrungi. Sayangnya juga, LETTO sendiri ternyata tak “jual diri” sebelumnya. Nggak kaget, kalau musisi-musisi Jogja sendiri “kebingungan” ketika ada band dari daerahnya yang [lagi-lagi] merilis album nasional.

Album perdananya seperti ‘sok-sokan’ lantaran menggunakan judul berbahasa Inggris Truth, Cry and Lie. Sesuatu yang sebenarnya makin biasa di dunia musik Indonesia. Tak cuma itu, separuh lagu dari 10 lagu yang ada, berbahasa Inggris. Hasilnya?

Sebenarnya LETTO termasuk mengejutkan secara materi. Single pertamanya Sampai Nanti, Sampai Mati ternyata bisa menggoda penikmat musik, meski masih ditengah dominasi pop manis lainnya. Lagu ini simpel, judulnya sedikit nakal. Tempo lagunya medium dengan karakter pop yang jelas. Hanya tampaknya pengaruh brit-pop dominan. Lagu ini mengingatkan penulis pada lagu-lagu milik grup Starsailor. Sebenarnya, lagu ini tak lazim. Ada nada-nada pentatonis yang cukup unik. Sebenanrya kalau dikulik lagi, akan lebih menarik. Tapi tampaknya LETTO tak mau terjebak pada pop-etnisitas.

Letto tampaknya cukup jeli mengemas konsep musiknya. Suara Noe sengau dengan karakter mellow yang cukup kuat. Secara “sembarangan” penulis mendengar karakter Keane Band, Tom Chaplin. Berlebihan? Mungkin saja, tapi karakter itulah yang menjadi kekuatan lagu-lagu LETTO. Coba simak track pembuka Truth, Cry, and Lie. Liriknya sebenarnya psychedelic. Tapi kita akan terkecoh dengan tarikan vokal Noe yang melankolik itu.

Kelebihan lainnya, Noe punya lafal Inggris yang cukup bagus. Meski sering mengaku “anak desa” ternyata Noe cukup lama ngendon di Kanada. Anak Emha Ainun Nadjib ini punya kelebihan vokal yang apik.

Sayangnya, semua kelebihan itu tidak langsung ditingkahi dengan sound yang apik. Kekurangan album ini adalah sound yang terlalu “sederhana”. Seandainya bisa lebih megah, kamu bisa tertipu mengira LETTO band britpop dari negeri seberang. Kelemahan lain yang perlu segera dibenahi, LETTO harus berani bermain-main dengan lirik yang sedikit nakal. 10 lagu nyaris seragam. Entah, kalau mereka memang memposisikan diri sebagai band “pengharubiru” saja. Kalau itu pilihan mereka, sayang sekali. Band ini punya potensi lebih.

Soal irik yang di album pertama dan kedua masih menyelipkan bahasa Inggris, agak unik juga alasan mereka. Pasalnya, selain soal proses kreatif, mereka juga lempeng saja mengatakan soal bahasa Inggris itu lebih pada persoalan rasa enak atay tak enak saja. “Kita cari yang nyaman saja,” kata Patub ikut nyamber. Dan pilihan itu tidak salah. Lambat laun, pĂ©lan-pelan lagu Letto mulai disimak dan diperhatikan. Nyaris empat bulan pertama sejak rilis, nama Letto baru disebut-sebut tapi belum bener-benar menjadi omongan yang menarik. Sampai kemudian beberapa lagunya menjadi soundtrack sinetron. Barulah mereka merambat naik ke atas. Puas? “Manusia tentu tidak pernah puas. Tapi yang pasti, kami mensyukuri hasil kerja kami selama ini karena bisa memberikan sesuatu yang ternyata disukai masyarakat,” kata Patub lagi.

Noe yang anak budayawan Emha Ainun Najib menambahkan, “Bagi entertainer, kepuasan akan terpenuhi bila karyanya diapreasi positif oleh khalayak dan yang paling sulit adalah mempertahankan kepercayaan yang telah diberikan tersebut. Untuk mempertahankan atau lebih sukses, kami tentu sudah memikirkan strategi berkarya untuk masa depan.”

Pernah berpikir soal sukses atau lagu-lagunya disukai? Jawabannya bisa “basa-basi” juga, tapi Letto melihatnya sebagai satu proses. “Kami tidak tahu mengapa lagu-lagu kami banyak diminati. Mungkin karena maknanya mendalam sehingga bisa mengilhami beberapa pihak untuk menggarap tema cerita. Sekadar informasi, lagu "Ruang Rindu" juga dijadikan ide cerita sebuah novel yang digarap seorang penulis dari Bandung,” jelas Noe.

Yang unik, menurut Noe, di Semarang juga ada guru Taman Kanak-kanak yang meminta izin untuk mengangkat album pertama mereka sebagai ide cerita sebuah buku yang akan dia garap. “Ah kita sebenarnya hanya menciptakan lagu yang menurut kami enak. Jika ternyata masyarakat suka, ini berarti selera kami dan masyarakat sama. Buktinya apa yang menurut kami enak, enak pula menurut masyarakat,” imbuh Noe.

Lirik yang lembut, suara yang mendayu dan musikalitas yang tidak terlalu kencang, membuat Letto kerap dituding sebagai band yang termasuk aliran menye-menye. Ada yang menudingnya cengeng, meski banyak yang menyebutnya band romantis. Dimanakah sebenarnya posisi Letto?

Ketika merilis album kedua ‘Don’t Make Me Sad’, Letto memberi alasan soal lagunya yang disebut dengan banyak pilihan tadi. "Kami tidak pernah tahu arti puitis dan romantis kok," jawab Noe, vokalis LETTO kepada THE CHORDs ketika ditanya soal romantisme dan puitisme dalam lagu-lagunya. Letto tidak sedang guyon dengan pernyataannya ini. "Kita memang tidak tahu, karena kita buat lagu dengan apa yang kita rasakan saja," jawab Noe.

Yup. LETTO memang lebih cocok disebut band kontemplatif dibanding band romantis. Meski musiknya mendayu, mengharubiru, tapi liriknya kalau diperhatikan lebih "berbicara" daripada sekedar lagu-lagu biasa. Berlebihan? Harusnya tidak. DI album kedua ini, LETTO terdengar lebih "emosional" secara lirik, karakter vokal dan teknik menyanyi Noe yang agak "menggelayut" itu.

"Kita tidak pernah sengaja mencari inspirasi dengan kontemplasi, tapi berusaha kontemplatif dengan apa-apa yang kita alami saja," jelas Noe, anak budayawan Emha Ainun Nadjib ini kalem. Noe memberi contoh, kehilangan handphone. "Dari kehilangan sesuatu yang kita sayangi, itu bisa mejadi hal kontemplatif dan brekembang jadi satu karakter lagu yang punya emosi," jawabnya.

Dan pilihan single 'Sebelum Cahaya' makin mengukuhkan "kecurigaan" kontemplatif itu. Video klipnya bisa menerjemahkan makna lirik yang sarat simbol-simbol cinta yang perlu refleksi. Pilihan cerdas karena emosi gerak dan bahasa tubuh yang 'berbicara' saat klipnya memilih model seorang perempuan tuna wicara. "Kita memberi sentuhan soul yang diterjemahkan lewat gerak bibir dan bahasa tubuh modelnya. Dan itu lebih mengena rasanya," jelas Noe lagi.

Album keduanya, lebih adem dan mateng liriknya. Tapi menjadi sederhana saja, ketika kita menyimak satu persatu lirik yang ada di album ini. Romantis? Penulis lebih suka menyebut asik di kuping. Kelembutan vokal dan lirihnya lirik, menjadi kekuatan yang bisa mengharubiru pendengarnya.

Letto sebenarnya tidak sedang mengukuhkan dan menciptakan cap apa-apa kepada band ini. Album pertamanya dulu, orang mulai aware ketika masuk bulan keempat dan seterusnya. Sebelumnya, lirik LETTO dianggap syahdu tapi perlu mikir.

Coba saja simak single pertamanya 'Sebelum Cahaya'. Adakah yang tidak setuju kalau disebut lagu ini seperti tuturan lafal doa dan keinginan manusia bertemu dengan cinta? Yang kuat dari lagu ini adalah emosinya meski tak ada lompatan yang luarbiasa dari skill dan pencapaian musikalitas yang masih merangkak. Track ini memang masih mengandalkan tempo melow, walaupun tak bisa disebut melankolik. Lebih pas disebut lirih. Masih menyambung dengan single-single hits di album pertama. LETTO masih "hati-hati" melompat dari karakter awal.

Tapi bandingkan dengan single 'Permintaan Hati' yang disebut-sebut bakal jadi hits kedua band ini. Agak terkejut juga, ketika LETTO coba menyelinap ke elektronic-rock. Ada distorsi, ada sampling, dan ada loop yang temponya cepat. Single ini menjadi 'perubahan' kontemplatif ke arah provokatif dalam tempo. Sayangnya, gaya bernyanyi dan vokal Noe, tetap saja ngepop. Tak menyisakan ruang untuk sedikit 'garang'. Yah sebutlah track ini 'pop-rock-renaissance' meski liriknya tak seketat single pertama.

Mencari lagu yang bicara cinta hati meski tak berujung manis adalah di lagu Ephemera. Berlirik bahasa Inggris, lagu ini seperti "menjawab kegelisahan" kamu yang sedang was-was dengan cinta dan hubungan asmara. Choir yang menyelip, membuat lagu ini terdengar dramatis. Jujur saja, vokal Noe kuat di model-model track seperti ini yang bertebaran di album ini. Lagu yang kuat lagi di album ini adalah Don't Make Me Sad. Lirik berbahasa Inggris ini seperti menjadi penutup yang manis dari rangkaian kelambutan, enlighment, disolasi, dan kontemplatif yang begitu kentara di album ini.

Kelemahan di album ini [dan juga album pertamanya] adalah sound yang tidak maksimal, tidak clean dan kasar di beberapa lagu. Apakah diburu-buru target rilis album? Entahlah, tapi album berikutnya perlu satu sentuhan khusus soal sound ini. Piye dab?

Lagu-lagu Letto sekarang banyak yang “jualan” dalam istilah industrinya. Benarkah? “Sebenarnya masalah laku itu adalah rezeki. Masing-masing band mempunyai rezeki sendiri-sendiri. Tapi paling tidak konsistensi perlu dijaga oleh para personel saat menggarap lagu. Mereka harus mempunyai orisinalitas dalam berkarya. Produser tentu menuntut band yang satu untuk menghasilkan karya yang berbeda dari band-band lain agar albumnya laku di pasaran. Ini yang dinamakan orisinalitas,” tegas Noe. Yang jelas, Letto masih tetap ingin eksis dalam waktu lama. Tak mau letoy [baca: ambruk] sebelum berkembang.

source: tembang.com [joko.moernantyo]

Friday, August 31, 2007

Promo Radio Letto


hari kamis (30.08.2007), seharian letto ngadain promo di radio, pagi hari di radio delta fm kawasan ratu plaza jakarta, siang hari ampe malam di radio grup mra media di kawasan sarinah building. Jam 9an meraka live di jaringan delta fm seluruh indonesia di acaranya shahnaz haque – indonesiasiesta, interview plus nyanyi akustik.

siang hari dah on air lagi dari lantai 8 sarinah, mulai dari trax fm trus dilanjut tapping buat trax fm juga. sore hari kebetulan gw ada acara di kawasan sudirman-tamrin juga, sekalian aja nyamperin mereka yang lagi on air di cosmopilitan fm. di cosmopolitan fm mereka juga bawain lagu secara akustik selain interview ama dj. moza.

magrib acara udahan, mereka ngrokok dulu sebelum pulang plus ngobrol2, kebetulan ivan gunawan juga abis siaran gantiin iwet ramadhan dan ikutan nyamperin di ruang asap. ivan gunawan banyak komentar tentang penampilan letto di trans tv saat 17an kemarin yang live dari atap menara bank mega yang sebenernya emang bagus banget.

sehari sebelumnya gw juga nyamperin mereka saat tampil ngisi acara pensi teen yang diadain majalah teen di kawasan mardiyuana bogor. Penampikan mereka berikutnya yang live nanti hari sabtu malam jam 9 tanggal 1 september.2007 di kawasan atrium citos di acaranya bank bni.

written by: tamtomo
jakarta, 30.08.07 20:00

Sebelum Cahaya (Video Live & Lyric)



Ku teringat hati
yang bertabur mimpi
kemana kau pergi cinta

Perjalanan sunyi
yang kau tempuh sendiri
kuatkanlah hati cinta

Chorus:
Ingatkan kau kepada
embun pagi bersahaja
yg menemanimu
sebelum cahaya
ingatkan kau kepada
angin yg berhembus mesra
yang kan membelaimu cinta

Kekuatan hati
dan berpegang janji
genggamlah tanganku cinta
ku tak akan pergi
meninggalkanmu sendiri
temani hatimu cinta

Thursday, August 30, 2007

Permintaan Hati (Video Live & Lyric)


Terbuai aku hilang
Terjatuh aku dalam
keindahan penantian
terucap keraguan
yang bimbang
yang tehalang
kepastian cinta

Aku hilang
aku hilang

Tersabut kabut malam
terbiasnya harapan
yang tersimpan sejuta bertuan
terasa kerinduan hati yang bimbang
yang terhempas kepastian cinta

Dengarkanlah permintaan hati
yang teraniaya sunyi
dan berikanlah arti pada
hidupku yang terhempas
yang terlepas pelukanmu
bersamamu dan tanpamu aku hilang selalu

Aku hilang
aku hilang

Tersabut kabut malam
terbiasnya harapan
yang tersimpan sejuta bertuan
terasa kerinduan hati yang bimbang
yang terhempas kepastian cinta

Dengarkanlah permintaan hati
yang teraniaya sunyi
dan berikanlah arti pada
hidupku yang terhempas
yang terlepas pelukanmu
bersamamu dan tanpamu aku hilang selalu
bersamamu dan tanpamu aku hilang selalu

Tuesday, August 28, 2007

Events Letto di September 2007


01 09 2007 Show "Penarikan Undian BNI" Citos Jakarta
02 09 2007 Show - Banjarmasin (Tentative)
03 09 2007 Show "LA LIGHTS CAMPUS EDUTAINMENT" ITATS Surabaya
04 09 2007 Show "LA LIGHTS CAMPUS EDUTAINMENT" UBAYA Surabaya
05 09 2007 Promo Cetak - Jakarta
06 09 2007 Show - Belitung
07 09 2007 Show Kamasutra Bali (Tentative)
08 09 2007 Show - Magelang
09 09 2007 Show Bintaro Plaza Jakarta
10 09 2007 Musik Special 1 jam bersama - Jakarta (Tentative)
11 09 2007 Grand Final MAMA MIA Indosiar Jakarta (Tentative)
11 09 2007 Promo Media Cetak - Jakarta
13 09 2007 Meet & Greet Cimanggis Mall Depok
14 09 2007 Shooting VideoClip "Hantui Aku" - Jakarta (Tentative)
15 09 2007 SCTV Special By Request SCTV Jakarta (Tentative)
16 09 2007 Tribute To Chrisye - Jakarta
17 09 2007 Promo Media Cetak - Jakarta
18 09 2007 TV Talk Show - Jakarta (Tentative)
18 09 2007 Promo Radio - Jakarta
19 09 2007 Promo Radio - Bogor
20 09 2007 Instore Signing Istana Plaza Bandung
21 09 2007 Radio Promo - Bandung
22 09 2007 Soccer Band RCTI - tapping - Jakarta (Tentative)
25 09 2007 Buka Puasa Bersama - Musica - Jakarta
26 09 2007 TV Talk Show - Jakarta (Tentative)
27 09 2007 Musik Show RCTI RCTI Jakarta
29 09 2007 Tabligh Akbar Trans 7 - Bandung
30 09 2007 Show - Malang

* Jadwal bisa sewaktu-waktu berubah

Saturday, August 25, 2007

Don't Make Me Sad (review @ detik.com)

Dari judulnya saja 'Don't Make Me Sad' terlihat, di album keduanya ini Letto tak ingin bersedih. Sedikit lagu mellow, dengan fariasi suara baru di musiknya, Letto mencoba garang.
Hasilnya tak begitu mengecewakan kendati mungkin terdengar sedikit aneh. Di album ini Letto coba untuk lebih "nakal" dengan komposisi musiknya, tapi masih dengan ciri khas lagu-lagu Letto sebelumnya.

Langsung ke hits andalan, 'Sebelum Cahaya'. Boleh dibilang lagu ini punya aura yang sangat kuat. Cocok sekali dengan rilisnya yang menjelang bulan puasa, lagu ini bisa merangkap sebagai lagu rohani. Komposisi gitar akustiknya harmonis sekali terutama di bagian intro. Melodi akustiknya pun perlu diacungi jempol. Untuk urusan syair tak perlu dipertanyakan lagi.

Beralih ke lagu mellow lain di album ini coba dengarkan 'Memiliki Kehilangan': Rasa kehilangan hanya akan ada jika kau pernah merasa memilikinya.
Simak juga 'Sejenak' dan 'Don't Make Me Sad'.

Letto mulai memainkan lebih banyak synthesizer di album ini. Dengarkan 'My Liberty, Good Bye'. Lagu ini terdengar seperti musik disko elektrik. Sedikit gambaran seperti lagu-lagu ceria Nidji digabung harmonisasi ala The Upstairs.

'Permintaan Hati' lebih seru lagi. Letto banyak bermain ryhtm, lagunya sedikit beat up. Jelang bagian reffrain, lagunya malah terdengar mirip lagu Fatur 'Java Jive'. Wajar saja sentuhan itu mungkin karena produser mereka adalah bassis Java Jive, Noey. Tapi tambahan distorsi di lagu ini top.

Sebagian besar lirik-lirik di album ini sangat catchy. Musik Letto memang berbeda tapi kali ini benar-benar unik. Mereka lebih berani bereksperimen memasukkan suara-suara musik baru.

Seperti pengikraran bahwa Letto tak hanya bisa maju lewat lagu mellow, Noe, Dedy, Patub dan Arian coba lebih garang. Beberapa lagu bernuansa rock diselipkan, dengan saja 'Rasakanlah Makna' juga 'Permintaan Hati'.

Secara keseluruhan album ini tidak mengecewakan. Letto terus mempertajam aliran musiknya sendiri dengan banyak fariasi yang tak terduga. Nuansa akustik dan perkusi di beberapa lagu membuat album ini pantas diacungi jempol. Two tumbs up

source: detikhot.com

Mailing List (Fans) LETTO di Yahoo!


Click here to join letto
Click to join letto


mailing list (milis) fans letto yang beralamat di yahoogroups sudah ada sejak dibuat 16 april 2006, sampai saat ini sudah ada 204 member yang join di milis ini meski milis ini tidak dipublikasikan.

pada awalnya dibentuk sebagai tempat ngumpulnya fans letto dan menjadi salah satu penyampai informasi yang berhubungan dengan letto. pada saat itu belum ada web resminya, yang ada hanya blog unofficial yang dibuat oleh fans Letto dan beralamat di planet letto. pada perkembangannya traffic pengunjung blog ini saat ini tinggi sekali, plettonic yang berkunjungpun bukan cuma berasal dari dalam negeri doang tapi juga negara-negara lain, malaysia, singapura, philiphine, hongkong, usa dll.

tentang milis itu sendiri bersifat unofficial juga, tapi dari membernya pun berasal dari management letto juga ada yang joint beberapa hari setelah dibentuk, member dari luar terbanyak berasal dari malaysia & singapura. Semoga aja milis ini direstui alias dijadiin official milis buat fans letto.

buat ngedaftar jadi member, kunjungi aja di milis letto atau kirim email kosong yang ditujukan ke letto-subscribe@yahoogroups.com

Thursday, August 23, 2007

Gemerlap 3 Cinta

Tanggal 24.08.2007 (Jumat), mulai jam 4 ampe jam 6 sore , bertempat di Istora Senayan Jakarta, LETTO, NAFF dan The Titans ngisi salah satu rangkaian acara Ultah RCTI yang ke 28 yang bertajuk GEMERLAP 3 CINTA.

Acara itu sendiri juga akan disiarkan secara langsung di stasiun televisi RCTI, bagi pLettonic yang mo ikutan acara tersebut dapat memperoleh undangannya di:
SINI

Kita tunggu aja penampilannya secara live kali ini.

Wednesday, August 22, 2007

Don't Make Me Sad, Melihat Dunia Dari Berbagai Sisi

Tak perlu didebat lagi, bahwa musik adalah salah satu obat yang ampuh untuk menemani atau menenangkan suasana hati. Lagu yang tepat di saat yang tepat akan membuat emosi kita semakin sempurna.

Letto yang didirikan oleh Noe (vocal), Patub (gitar), Arian (bas) dan Dedy (drum) sebagai tempat pencurahan emosi mereka selalu memiliki lagu dengan tingkat emosional yang tinggi. Lirik-lirik yang ditulis dengan pemikiran mendalam, dan aransemen musik yang menguatkan makna yang tersurat dan tersirat dalam setiap lagu. "Setiap kata di lirik memiliki sayap. Kita bisa memilih artinya sesuai keinginan hati kita," terang Noe dengan santai. Kalau sebagian ada yang merasakan sisi religius mungkin sebagian orang lagi akan menangkap sisi romantis. "Padahal, sampai sekarang ini saya enggak bisa mengartikan kata-kata romantis," Sambil tertawa Noe mengungkapkan isi hati tentang kata romantis.

Sebuah lagu berjudul Sebelum Cahaya akan mengawali perjalanan kita. Musiknya langsung mengantarkan kita dalam suasana yang menenangkan hati. Selaras dengan lirik lagu yang berusaha menguatkan hati yang gundah. Sangat menenangkan, seperti usapan lembut di punggung kita dari orang yang kita kasihi. Tidak akan mengherankan kalau lagu ini nantinya bakal sering terdengar di radio ataupun layar televisi kita sebagai soundtrack sinetron. Tentunya itu bukan tujuan utama dari anak-anak Letto ketika menciptakan lagu ini.
Walaupun tidak dipungkiri, itu merupakan salah satu celah promosi yang sangat baik. "Saya cuma membuat lagu sesuai suasana hati, kok. Kalau lagu itu akhirnya laris sebagai soundtrack sinetron, tentunya itu merupakan sebuah penghargaan bagi kami," Ungkap Noe yang jadi penulis lirik utama dari band ini.

Tak jarang, Letto sebenarnya mengangkat tema dari hal-hal yang sangat ringan. Dari kejadian sehari-hari yang seringkali kita alami. Coba saja kita simak lebih jauh lirik-lirik lagu Memiliki Kehilangan atau Sejenak. Setiap hubungan antara lirik dan arransemen musik di lagu-lagu ini berkaitan sangat erat. Kalau kita perhatikan musiknya dan mencermati liriknya, maka kita akan menemukan sebuah kandungan cerita yang bisa membuat kita tertegun atau malah tertawa.

Penampilan para personel band ini ini memang identik dengan kesederhanaan. Tapi tidak untuk musik mereka. Memang mereka hanya memakai instrument-instrument yang biasa dipakai semua anak band. Tapi mereka selalu mempunyai nada-nada yang terdengar segar di telinga kita.

Tatanan musik yang indah dan membuat kita terpesona untuk terus mendengarkannya. Apalagi sekarang, mereka sudah mulai bermain-main dengan software computer untuk menciptakan musik. Kita akan mendengar cukup banyak sampling dan looping di lagu-lagu Letto kali ini. Beberapa lagu mungkin ada yang akan memberi kita shock therapy. "Ada lagu yang mungkin tidak didengar di album Letto terdahulu. Tapi kita hanya ingin agar orang siap untuk menerima apapun yang dimainkan Letto," Noe menerangkan maksud dari kejutan yang mereka hadirkan di album Don't Make Me Sad.

Secara keseluruhan album ini berisi hal-hal yang ada di sekitar kita. Karena setiap saat, Letto selalu berusaha mencerna apa sih yang sedang terjadi sekarang ini. Dari situlah Letto punya cita-cita lain dari album ini. Sebagian dari hasil penjualan album ini akan digunakan untuk membuat buku-buku berhuruf braile. Yang diharapkan akan berguna untuk teman-teman penyandang tuna netra. "Sembari kita belajar melihat dunia dari sisi mereka," terang Noe.

Yuk, kita mencoba melihat semua hal dari berbagai sisi.

Judul Album: Don't Make Me Sad
Artist: Letto
Produksi: P.T. Musica Studios

01. My Liberty, Good Bye
02. Sebelum Cahaya
03. Hantui Aku
04. Memiliki Kehilangan
05. Permintaan Hati
06. Ephemera
07. Bunga Dimalam Itu
08. Innosense's-Innocence
09. Rasakanlah Makna
10. Sejenak
11. Kau, Aku dan Obsesiku
12. Don't Make Me Sad

source: musica.co.id

Letto, Masih Main Halus

Grup band Letto baru-baru ini merilis album kedua mereka bertajuk ‘Don’t Make Me Sad’. Seturut dengan tajuknya, Letto masih bermain diarena musik romantis nan membuai. Tidak bakal bikin penggemarnya sedih.

"Dulu, kami dikenal lewat lirik yang halus. Di sini, kami mencoba banyak sisi. Ada yang lebih halus. Ada juga yang nge-beat," kata Noe, sang vokalis dalam jumpa pers peluncuran album itu di Djakarta Theater Kamis (16/8) lalu. Seperti dalam lagu Cahaya, hits single mereka, lagu tersebut mengandung makna yang dalam.

"Lagu itu bercerita tentang seseorang yang membutuhkan teman dan tidak ada yang bisa menemani. Tapi, jangan lupa, bukan hanya manusia yang bisa jadi teman. Alam, embun, angin, dan Tuhan bisa jadi teman kita yang paling setia," papar Noe.

Dalam lagu lain ‘Ephemera’, band yang digawangi oleh Noe (vokal), Patub (gitar), Arian (bas), dan Dedy (drum) ini pun mencoba berfilosofi. 'Ephemera' adalah sesuatu yang hanya bersifat sementara atau hanya ada di permukaan. Misalnya, kemarahan dan kesedihan. Banyak hal yang kita anggap beban, padahal itu hanya sementara. Kira-kira, begitu yang ingin disampaikan oleh lagu tersebut," jelas Noe.

Ternyata menulis lirik romantis oleh seorang Noe tidak membutuhkan suasana atau pengalaman khusus. "Di saat seperti apa kami tidak butuh nyepi di gua untuk mencari tempat tenang? Kami menciptakan suasana itu di dalam diri kami. Kami tidak tahu arti kata romantis atau puitis. Kami hanya menulis apa yang ingin kami sampaikan," tandas Noe.

source: kafegaul.com

Monday, August 20, 2007

Tak Melulu Mellow, Letto Rilis Album nge-beat

Kesan mellow sudah jadi trade mark Letto. Tapi kini tak lagi. Lewat album keduanya yang bertajuk 'Dont Make Me Sad' Letto membuktikan mereka tak melulu mellow.

Namun sebagai hits andalan band asal Yogyakarta itu memilih lagu 'Setelah Matahari'. Masih sedikit mellow namun Letto punya alasan sendiri untuk itu.

"Lagu itu biar tidak terlalu juh dari album sebelumnya. Tapi di album ini rata, mellow ada 4, middle beat 4 lagu dan yang up n beat ada 2 lagu," ujar Noe ditemui dalam acara rilis album di XXI Lounge, Djakarta Theater, Jl. M.H Thamrin, Sarinah, Jakarta Selatan, Kamis (16/8/2007).

Album yang digarap sekitar 7 bulan ini direkam di Yogyakarta. Sementara proses mixing mengambil tempat di Yogyakarta dan Jakarta dan mastering berjalan di studio Musica bersama produser Noey dan Capung 'Java Jive.

"Ini adalah perjalanan pemikiran kita bahwa kita tidak akan bersedih dan jangan bikin kita sedih," tandas Noe sang vokalis.

Musica sebagai label sudah menjanjikan akan membuatkan 5 video klip untuk Letto. Letto juga telah mempersiapkan lagunya untuk jadi soundtrack sinetron, mengulang sukses lagu 'Ruang Rindu' di sinetron 'Intan'. Juni lalu Letto baru saja merilis album perdananya 'Truth, Cry and Lie' di Malaysia dan Singapura.(yla/yla)

source: detikhot.com

Letto Nantikan Kolaborasi dengan Waljinah

Sukses album pertama tak menghilangkan idealisme bermusik 'Letto'. Band yang baru merilis album keduanya itu pun menantikan kolaborasi dengan Waljinah.

Ditemui di XXI Lounge, Djakarta Theater, Jl M.H Thamrin Noe sang vokalis mengaku, walau belum pernah, 'Letto' tidak menutup kemungkinan kolaborasi. Dengan siapapun.

"Inginnya sama Waljinah, tapi kita nunggu kesempatan yang tepat. Soalnya disini, dalam industri dan nyiptain lagu kita nggak sendiri tapi ada label," jelas Noe.

Selain ingin berkolaborasi dengan Waljinah, band dengan empat personil itu, ternyata juga punya lagu dalam bahasa Jawa. Sayang, lagu tersebut tidak lolos seleksi.

"Jangan tanyakan sama kita, itu tergantung labelnya. Ada kok lagu jawa tapi ya kalau mau denger silahkan ke rumah saya," lanjut Noe seraya tersenyum.

'Letto' baru saja merilis album keduanya yang diberi judul 'Don't Make Me Sad'. Dalam album kedua tersebut 'Letto' menjadikan lagu 'Sebelum Cahaya' menjadi andalannya.

Akankah lagu baru tersebut mampu menyaingi kepopuleran 'Ruang Rindu'?(dit/dit)

source: detikhot.com

Letto Andalkan Sebelum Cahaya di Album Kedua

SETELAH sukses melempar album pertama Truth, Cry, and Lie. Saat HUT RI ke-62, band papan atas yang sedang naik daun, Letto memutuskan untuk meluncurkan album keduanya dengan mengambil titel Don't Make Me Sad.

Sejak awal Letto ingin bermusik secara jujur tanpa ada keinginan yang muluk-muluk. Letto yang digawangi Noe (vokal), Patub (gitar), Arian (bas) dan Dedy (drum) ingin mencurahkan segala emosi yang ada. Bahkan album kedua Letto merupakan kontemplasi dan pengendapan serta perenungan yang sangat dalam dan akhirnya muncullah lagu-lagu yg bisa menggugah dan akhirnya menemani pendengar. Seperti dalam lagu Sebelum Cahaya sebagai single hit.
Pengumpulan materi antara enam sampai delapan bulan, dengan masa recording dua minggu, waktu yang mepet karena memang ada tekanan deadline.

Menurutnya, ini perenungan yang sangat dalam, pokoknya ini pengendapan pikiran kita. Kita berharap embun, cahaya, angin menjadi teman kita yang selama ini kita tidak menyadarinya. “Kita selama ini hanya sadar kalau teman itu ya kekasih saja," ujar Noe saat ditemui dalam peluncuran album keduanya di Djakarta Teater, Kamis (16/8).

Diakui Noe penggarapan album keduanya dituntut soal deadline. Mau tidak mau banyak lirik lagu atau aransemen mereka kerjakan saat tur atau dalam perjalanan. Kendati begitu Letto akhirnya bisa menyelesaikan album keduanya pada pertengahan tahun 2007.

Di album ini proses recording dikerjakan di Jogja, sementara mixing dan mastering di Jogja dan Jakarta. Untuk hit single Sebelum Cahaya video klipnya sangat luar biasa. Apalagi menghadirkan Amanda, seorang model yang tuna rungu. Lirik lagunya berkisah tentang seseorang yang merasa kesepian karena ditinggalkan teman.

"Padahal sesungguhnya dalam kesendirian itu masih ada Tuhan dan alam yang menemani. Ada angin, embun dan sebagainya," ujar Noe yang bernama lengkap Sabrang Mowo Damar Panuluh. Nada mellow memang menjadi ciri khas Letto. Selaras dengan lirik lagu yang berusaha menguatkan hati yang gundah. Sangat menenangkan. Tidak heran kalau lagu Sebelum Cahaya akan sering terdengar di radio maupun di berbagai televisi swasta dan tentunya sountrack sinetron.

"Saya membuat lagu sesuai dnegan suasana hati. Kalau lagu itu akhirnya laris di sountrack maupun dianggap sangat dalam itu terga ntung penilaian pribadi masing-masing orang. Yang jelas antara lirik dan aransemen sangat berkaitan. bahkan soal romantisme saya sampai sekarang belum bisa mengartikan kata-kata romantis. Kalau mellow memang suara saya lebih terasa seksi dan sangat merefleksikan perasaan kita," ujar anak dari Emha Ainun Nadjib ini.

Eksekutif produser Musica, Ibu Acin, menyakini album ini akan bisa sesukses album terdahulu. Bahkan pihak Musica Studio menyiapkan lima video klip untuk album kedua Letto ini.
"Sejak dari album kompilasi, mereka mempunyai lirik yang sangat beda dan vocal yang unik, feeling dan harapan sayaini bisa sangat diterima. Kita akan menyiapkan lima video klip album Letto makanya kami ingin dukungan dari teman-temna qwartawan untuk memilihkan lagu," jelasnya.yon

source: Surya

Jumpers Album Kedua

Sukses di album debut, grup Letto kembali meluncurkan album terbaru. Tak jauh dari album pertama yang diberi tajuk berbahasa Inggris pula, kali ini Don't Make Me Sad dijadikan tajuk album kedua Noe dkk. Dengan aransemen musik yang sederhana namun mempunyai kedalaman dalam syair, Letto mematok SEBELUM CAHAYA sebagai single hit.

Pengumpulan materi antara 6 sampai 8 bulan, dengan masa recording 2 minggu, waktu yang mepet karena memang ada tekanan deadline. Tetapi pihak label lebih memberi keleluasaan untuk mengeksplor, papar Noe saat jumpers peluncuran album mereka di Djakarta Teater, Kamis (16/8).

source: kapanlagi.com

Letto Luncurkan Album Baru

Kapanlagi.com - Sukses di album debut, grup Letto kembali meluncurkan album terbaru. Tak jauh dari album pertama yang diberi tajuk berbahasa Inggris pula, kali ini Don't Make Me Sad dijadikan tajuk album kedua Noe dkk. Dengan aransemen musik yang sederhana namun mempunyai kedalaman dalam syair, Letto mematok SEBELUM CAHAYA sebagai single hit.

"Pengumpulan materi antara 6 sampai 8 bulan, dengan masa recording 2 minggu, waktu yang mepet karena memang ada tekanan deadline. Tetapi pihak label lebih memberi keleluasaan untuk mengeksplor," papar Noe di Djakarta Teater, Kamis (16/8).

Di album ini proses recording dikerjakan di Jogja, sementara mixing dan mastering di Jogja dan Jakarta.

Eksekutif produser Musica, Ibu Acin, menyakini album ini akan bisa sesukses album terdahulu. "Sejak dari album kompilasi, mereka mempunyai lirik yang sangat beda dan vocal yang unik, feeling dan harapan saya ini bisa sangat diterima," sambut ibu Acin.

Nada mellow memang menjadi ciri khas Letto dan ini diakui oleh Noe, yang menulis semua lirik lagu mereka. "Kalau mellow memang suara saya lebih terasa seksi dan sangat merefleksikan perasaan kita," ujarnya ringan.

Yang menarik, dalam lagu SEBELUM CAHAYA, video klipnya diperankan oleh Amanda, seorang penderita tuna rungu. Kenapa tuna rungu? Letto ingin membuat satu perbedaan.

"Dalam lagu ini, emosi yang berbicara dan hanya bisa direfleksikan oleh mereka yang jauh dari bisingnnya dunia. Aku berharap ini bisa lebih berguna bagi mereka dan kita mencoba melihat dari sisi mereka," ungkap Noe.

Sebagian hasil dari penjualan album ini, Letto akan mendedikasikan untuk membuat buku huruf Braille. Musica akan mempromosikan album ini ke Malaysia.

"Dan itu bukan urusan kami. Kalau pun nanti ini sukses, pastinya adalah efek samping saja. Kita serahkan pada label," pungkas Noe. (kpl/wwn)

source: kapanlagi.com

Letto Kaget dengan Cerita Ruang Rindu

Jakarta,- Lagu menjadi inspirasi sebuah karya dalam bentuk lain tentu membanggakan. Itulah yang dirasakan grup band Letto saat mendampingi Andi Eriawan merilis buku berjudul Ruang Rindu kemarin (13/8) siang.

Ruang Rindu merupakan salah satu lagu milik Letto. Kelompok beranggota Noe (vokal), Patub (gitar), Arian (bas), dan Dedi (drum) itu secara lengkap hadir di toko buku untuk mendukung penjualan buku Ruang Rindu, sebuah songlit (istilah buku yang diadaptasi dari lagu, Red). Buku itu ditulis Andi yang terinspirasi lagu mereka.

Acara di Toko Buku Gramedia Plasa Semanggi itu diawali talk show yang membahas secara mendasar isi buku. Noe mengaku senang dan tidak menyangka karyanya bisa dibahas lebih mendalam menjadi sebuah cerita panjang.

''Begitu baca bukunya, kita justru kaget, oh ada juga ya cerita seperti itu (pada buku, Red) dalam lagu Ruang Rindu? Soalnya, ketika membuat lagu itu, kita hanya mencari nuansa. Bukan cerita,'' ungkap Noe.

Bisa dijadikan inspirasi sebuah karya dalam bentuk lain, kata Noe, merupakan kejutan yang menyenangkan bagi Letto. Mereka mengaku tidak pernah menyangka nama bandnya tertulis di cover sebuah buku dan dijual di toko buku. ''Ini sebuah kesempatan dan kita terima dengan tangan terbuka,'' lanjutnya.

Setelah itu, Letto menyanyikan lagu Ruang Rindu secara akustik. Noe menyanyi hanya diiringi satu gitar akustik yang dimainkan Patub. Meski begitu, para pengunjung cukup puas mendengarnya. Pembeli buku kemudian meminta tanda tangan langsung kepada Andi Eriawan, sang penulis, dan para personel Letto.

Saat mendampingi Andi, Letto mengaku bukan sekadar mengisi waktu luang. Mereka merasa memiliki tanggung jawab terhadap isi dan peredaran buku. ''Ini merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban terhadap karya. Sebab, buku ini juga terinspirasi karya kita,'' jelas Noe yang siang itu memakai topi hitam.

Noe berharap Ruang Rindu bisa dibaca banyak orang. Baginya, royalti yang paling dia harapkan dari buku itu bukan uang. Tapi, bukunya bisa dibaca dan dipahami masyarakat. ''Mulai sekarang kita harus coba paradigma baru. Bagaimana kalau kita berangkat bukan karena keuntungan. Bukan karena uang,'' jelasnya.

Dalam waktu dekat, Letto kembali disibukkan promo album baru, Don't Make Me Sad. Sejak 9 Agustus lalu, hitnya mulai didengar di beberapa radio. Rilis album tersebut rencananya dilangsungkan mendekati HUT Republik Indonesia. ''Karena pengalaman bertambah, di album baru kami lebih banyak variasi suara,'' ujar Arian. (gen)

source: pontianakpost.com

Letto Kerja bak Romusa,Luncurkan Album Baru, Siapkan Novel Braille

JAKARTA – Grup band asal Jogjakarta Letto meluncurkan album kedua. Di album yang berjudul Don’t Make Me Sad itu, Noe (vokal), Patub (gitar), Arian (bas), dan Dedy (drum) merasa lebih bebas berpetualang dalam cara bermusik.

Dulu, kami dikenal lewat lirik yang halus. Di sini, kami mencoba banyak sisi. Ada yang lebih halus. Ada juga yang nge-beat,” kata Noe dalam jumpa pers peluncuran album itu di Djakarta Theater Kamis (16/8) lalu.

Patub, sang gitaris, mengatakan bahwa album tersebut adalah buah kerja keras dengan teman-temannya selama setahun ini. ”Seperti romusa (pekerja paksa zaman Jepang, Red), kami mengerjakan album itu di tengah kegiatan yang padat. Kami ingat betul bagaimana empat komputer hidup dari pagi, siang, sore, hingga malam untuk ngejar deadline,” ujar cowok berkaca mata tersebut.

Sebuah lagu berjudul Sebelum Cahaya jadi single pertama dalam album produksi Musiko Studio itu. Seperti halnya dengan identitas Letto, lagu ciptaan Noe tersebut mengandung lirik yang dalam. Menurut Noe, lagu tersebut mampu menenangkan hati orang yang mendengarnya.

Lagu itu bercerita tentang seseorang yang membutuhkan teman dan tidak ada yang bisa menemani. Tapi, jangan lupa, bukan hanya manusia yang bisa jadi teman. Alam, embun, angin, dan Tuhan bisa jadi teman kita yang paling setia,” papar putra budayawan Emha Ainun Nadjib tersebut.

Untuk mendukung kehalusan lirik, klip video lagu itu dibuat dengan apik. Yakni, dengan mengambil latar belakang alam terbuka. Amanda, model cantik yang memiliki keterbatasan sebagai tunarungu, didapuk untuk membintangi klip tersebut.

Klip itu ingin menunjukkan embun pagi yang bicara dan angin yang berembus mesra. Semua berbicara tentang bahasa tubuh. Siapa lagi yang punya kemampuan untuk mengungkapkannya, kalau bukan Amanda yang memiliki kelebihan tidak bisa mendengar kebisingan dunia,” terang Noe dengan puitis.

Amanda yang hadir pada kesempatan itu ikut mengungkapkan rasa senang atas kesempatannya untuk andil dalam karya terbaru Letto tersebut. ”Terima kasih kepada Letto untuk (saya) jadi model klipnya. Saya suka Letto. Kata-katanya bagus,” ucapnya dengan suara terputus-putus.

Di luar single jagoan tadi, lagu lain berjudul Ephemera berhasil memancing rasa penasaran. Ternyata, lagu tersebut diambil dari salah satu kata dalam sastra Inggris.

Ephemera adalah sesuatu yang hanya bersifat sementara atau hanya ada di permukaan. Misalnya, kemarahan dan kesedihan. Banyak hal yang kita anggap beban, padahal itu hanya sementara. Kira-kira, begitu yang ingin disampaikan oleh lagu tersebut,” jelas Noe lagi.

Menurut Noe, secara statistik, komposisi musik di albumnya kali ini lebih seimbang. Empat lagu mellow, empat middle beat, dan empat lainnya up beat. Pria yang gemar mengenakan penutup kepala itu punya alasan sendiri menyangkut hal tersebut. ”Kami sengaja menaruh single pertama yang slow supaya nggak terlalu jauh dengan Ruang Rindu dan Sandaran Hati (hit Letto dari album pertama, Red),” ujar Noe.

Kemampuan Letto, khususnya Noe, dalam menghasilkan lirik-lirik puitis dengan makna yang dalam kerap memancing rasa ingin tahu para pendengarnya. ”Di saat seperti apa kami tidak butuh nyepi di gua untuk mencari tempat tenang? Kami menciptakan suasana itu di dalam diri kami. Kami tidak tahu arti kata romantis atau puitis. Kami hanya menulis apa yang ingin kami sampaikan,” katanya.

Rencananya, beberapa bagian dari penjualan album Don’t Make Me Sad tersebut akan digunakan untuk membiayai produksi novel Ruang Rindu dalam versi huruf braille. ”Dengan begini, orang-orang yang tidak mampu memandang juga bisa menikmati,” tambah Noe. (rie)

source: samarinda pos, radar lampung & indo pos