LETTO on Facebook

Sebelum Cahaya (Video Clip)

Thursday, February 05, 2009

Warna Pelangi Nusantara (Letto dan Kebudayaan)

Lantunan single dari album terbaru Letto Lethologica sudah mulai bergema di radio-radio dan video klipnya lalu-lalang di tivi swasta. Lethologica mencoba menghadirkan nuansa baru untuk para pendengar dan pecinta musik Letto. Banyak polesan yang lebih berani dan ekspresif. Bila tidak bisa dikatakan Matang, kini Letto kelihatan lebih percaya diri. Kepercayaan diri ini bukan serta-merta akibat dari kemampuan bermusik dan daya eksplorasi yang lebih berani. Melainkan juga karena ada sentuhan tradisional pada beberapa lagu di dalam album ini. Letto sangat percaya bahwa seni dan tradisi yang sudah dilahirkan oleh para pendahulu negeri ini sangat agung dan tidak boleh disepelekan, meskipun mau tidak mau melihat kenyataan sekarang musik atau apapun yang bernuansa kedaerahan selalu mendapat tempat yang kurang apresiatif.

Letto melihat secara lebih adil, bahwa semua khasanah musik baik yang modern maupun yang tradisional adalah kekayaan intelektual dan karya cipta yang patut mendapat apresiasi seimbang. Ada beberapa hal justru yang membuktikan bahwa sentuhan tradisi lebih merasuk ke dalam nurani dan meresap sejuk ke dalam jiwa. Lihat saja kecenderungan orang-orang sibuk modern yang berbondong-bondong menggandrungi Yoga, Tantra, dan bentuk-bentuk meditasi yang memakai alunan musik bernuansa tradisi.

Kepercayaan bahwa musik tradisi atau sifat tradisional merupakan harta tak ternilai, menuntun Letto untuk lebih dalam lagi berbicara di sektor kebudayaan. Sebuah sistem masyarakat yang tertata, teratur, dan tertib, tidak bisa melepaskan diri dari prinsip kebudayaan. Jaman sekarang perilaku absurd masyarakat menyulitkan identifikasi karakter atau identitas sebuah masyarakat. Apakah masyarakat ini berkarakter hedon? Ataukah sangat konservatif? Ataukah Liberal? Atau apa? Absurditas semacam ini kemungkinan baru mulai terbentuk sekitar 63 tahun terakhir ini, dan semakin absurd akhir-akhir ini. Sebelumnya, masyarakat masih punya tata konsep yang relatif sama soal Sopan-santun, Unggah-ungguh, dan Toleransi. Inilah saat yang baik untuk menguak kembali ajaran Adiluhung Leluhur guna menjadi Diri yang memiliki Jati. Letto dan Plettonic kota Solo hendak merealisasikan cita-cita ini dalam bentuk persembahan budaya yang digelar selama 3 (tiga) hari berturut-turut di sepanjang Jl. Slamet Riyadi kota Solo.

Tunggu tulisan selanjutnya "Solo Adilihung 2009"

_:: ampuh ::_

4 comments:

rindu said...

wow..sebuah event yang sangat mengagumkan...
sayang aku ga bisa dateng menyaksikan kehebohannya..
saloet buat plettonic solo,mas ampuh,letto dan semua yang ikut mendukung event ini..

by.rindu

rindu said...

wow ... sebuah event yang sangat mengagumkan,saloet buat plettonic solo,mas ampuh.letto dan semua yang ikut menyelenggarakan event ini..

aimyaya said...

Lestarikan terus musik tradisional.. biar kagak dibawa ke Malaysia :)

seno said...

bravo letto