LETTO on Facebook

Sebelum Cahaya (Video Clip)

Wednesday, March 29, 2006

Lirik Puitis Letto

Awalnya justru berteater.
Ketika kemudian muncul ide membuat sebuah grup band bernama Letto, para awaknya memutuskan untuk mengalir saja mengikuti irama zaman.
Ini sebuah band kecelakaan, kata mereka.
Dalam kurun waktu dua tahun sejak terbentuknya pada tahun 2004, grup band asal Yogyakarta ini sudah merekamkan sepuluh dari 29 lagu yang mereka cipta di dalam album Truth, Cry, and Lie produksi Musica Studio’s.


Ke depan, awak grup ini—Noe (vokal, kibor, synth, piano), Arian (bas), Agus Patub (gitar), dan Dedi (drum, perkusi)—tidak memiliki target apa pun.
Mereka hanya berharap, lagu dan musiknya bisa diterima masyarakat.
Letto tidak berarti apa-apa. What’s in a name, ungkapan yang pernah ditorehkan William Shakespeare dalam naskah dramanya Romeo and Juliet itu menginspirasi Noe dan kawan-kawan untuk mencari nama yang tidak punya makna.

Kata mereka, Letto tak ada kaitannya dengan Leto, istri Zeus dan ibu dari Apollo serta Artemis dalam mitologi Yunani.
Letto ya Letto, nama untuk identitas saja.

Jika dibilang band kecelakaan, barangkali ada benarnya.
Noe yang bernama asli Sabrang Mowo Damar Panuluh dan putra budayawan Emha Ainun Nadjib sejak SMA bersahabat dengan Arian dan Patub yang juga lahir dan besar di lingkungan yang akrab dengan musik dan gamelan.
Mereka aktif dalam teater dan kerap diminta membantu kelompok Kyai Kanjeng pimpinan Cak Nun ketika grup itu manggung.

Kami membantu mixing atau cek sound. Apa sajalah, pokoknya kami membantu,” kata Arian yang mahasiswa semester akhir Jurusan Administrasi Negara Universitas Gadjah Mada (UGM).
Pernah pada satu saat mau latihan, penyanyinya belum datang, maka Noe diminta menyanyi.
Ya sudah, saya nyanyi saja. Mau dibilang suara saya bagus, itu tergantung yang mendengar,” kata Noe yang lulusan Math and Physics University of Alberta ini merendah.
Patub yang lulus Ilmu Tanah UGM juga sama, kerap diminta membantu Kyai Kanjeng.

Ketiganya lalu mulai latihan nge-band di Geese, studio Kyai Kanjeng di Kadipiro Yogyakarta.
Lulus SMA, ketiganya berpisah dan bertemu lagi tahun 2003, saat Noe pulang ke Indonesia.
Dedi, si penabuh drum yang masih semester dua di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta kemudian bergabung.
Dari sanalah mereka mulai intens mengaransemen lagu.
Waktu senggang digunakan untuk mencipta lagu.
Semua liriknya Noe yang buat,” kata Arian.

Proses rekaman Letto cukup singkat. Satu lagu mereka, I’ll Find a Way, pernah tergabung dalam album kompilasi ”Pilih 2004”.
Mengapa kemudian Letto diajak rekaman satu album pada awal 2006 ini, Head of Radio & Print Promotion Musica Studio’s Dewi Rahmayati mengatakan, Letto menawarkan musik yang berbeda dari yang selama ini ada di Musica.
Album Truth, Cry, and Lie (kaset dan CD) kini sudah terjual 35.000 keping. Jadwal manggung Letto pun makin padat.
Tanggal 9-11 maret ini, Letto tampil di Solo, Yogyakarta, dan Semarang dalam acara Class Mild.
Lalu 19 Maret di Wajah Oriental Aneka Yess, 21 Maret di Extravaganza Trans TV, 24 Maret Star on TV di antv, dan masih panjang lagi daftar manggungnya.

Pengaruh musik Kyai Kanjeng sangat kental mewarnai musik Letto, dengan corak slendro dan pelog dalam permainan instrumen modern.
Dengan lagu dan lirik seperti Sandaran Hati, Sebenarnya Cinta, atau Ruang Rindu, pengaruh Kyai Kanjeng itu cukup terasa.
Meski begitu, pengaruh rock juga mewarnai lagu-lagu Letto, mulai dari rock Led Zeppelin, Deep Purple, hingga punk rock.
Warna rock yang cukup kental terdengar pada lagu Truth, Cry, and Lie , Tak Bisa Biasa, No One Talk About Love Tonite, bahkan Insensitive yang sangat slow dan mellow.
Dalam U and I dan I’ll Find a Way bahkan ada sentuhan jazznya.

Noe mengakui, banyak pengaruh yang mewarnai musik Letto.
Sewaktu membuat lagu, mereka belum memikirkan konsep musiknya.
Segalanya dibiarkan mengalir.
Jika ada yang usul diberi unsur rock atau jazz, tinggal dimasukkan saja.
Aliran kami sebenarnya adalah insya Allah pop,” kata Noe sambil tertawa.
Dengan musik gado-gado itu, Letto memang masih belum menemukan ciri khasnya.
Akan tetapi, bisa jadi justru ketiadaan ciri khas itulah yang menjadi kekhasannya dan memang unik. Untuk itu pun, Letto belum mau bertaruh.
Mlaku waelah. Aku malah bingung yen ditakoni konsep opo maneh target. Wong ndeso wae (Jalani sajalah. Aku justru bingung jika ditanya masalah konsep apalagi target. Orang desa saja),” kata Noe, yang diiyakan Arian, Patub, dan Dedi.

Kekuatan Letto sebenarnya justru pada lirik-lirik yang puitis yang disukai anak muda dan di beberapa bagian ”sedikit” kontemplatif.
Dalam Ruang Rindu, misalnya, Di daun yang ikut mengalir lembut/terbawa sungai ke ujung mata/dan aku mulai takut terbawa cinta/menghirup rindu yang sesakkan dada/jalanku hampa dan kusentuh dia/kupegang erat dan kuhalangi waktu/tak urung jua kulihatnya pergi...


Atau dalam Sandaran Hati. Yakinkah ku berdiri di hampa tanpa tepi/bolehkah aku mendengar-Mu/terkubur dalam emosi tanpa bisa bersembunyi/aku dan nafasku merindukan-Mu. Lagu ini berkisah tentang kerinduan dan kepasrahan kepada Tuhan.

Dalam membuat lirik, Noe juga mengalir saja mengikuti emosi jiwa.
Ketika mencipta lagu berbahasa Inggris, dia pun tidak bermaksud untuk menunjukkan kehebatan.
Kalau lagunya pasnya pakai bahasa Inggris, ya pakai lirik Inggris. Kalau tidak, ya Indonesia,” kilahnya.

Dinyanyikan Noe dengan suara soprannya yang sensual, lagu dan musik Letto bisalah mewarnai jagat musik band di Indonesia.
Serba mengalir, itulah Letto dari ndeso.

(Sumber: Susi Ivvaty, Kompas)