LETTO on Facebook

Sebelum Cahaya (Video Clip)
Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Sunday, March 15, 2009

Lethologica: Ketika Letto Berlogika

Review: Detik.com
Tanggal: 11 Maret 2009


Letto kembali hadir lewat album ketiganya bertajuk 'Lethologica'. Berbeda dari album sebelumnya yang sedikit sangar, Letto kini berlogika sehingga pendengarnya sulit berartikulasi.

Coba kita telaah dulu arti dari Lethologica. Lethologica adalah kelainan psikologis yang membuat seseorang kesulitan mengartikulasikan pemikirannya mengenai kata kunci, nama ataupun kalimat di sebuah percakapan. Tapi ini kelainan psikologis yang tidak permanen.

Hmmm... mungkinkah album ini bisa membuat Anda mengalami kesulitan mengartikulasikan Letto? Atau apapun di samping Anda? Kita simak saja.

Album ini dibuka dengan hits 'Lubang di Hati' yang sangat melodik. Noe cs memberikan sentuhan pop yang catchy. Dibanding lagu lain, 'Lubang di Hati' seperti penyambung dari album sebelumnya.

Lagu-lagu selanjutnya jelas berbeda. Simak saja 'Itu Lagi Itu Lagi' yang terdengar lebih fun. Melodinya pun unik dengan sentuhan kibord. 'Kepada Hati Itu' pun terdengar sangat catchy. Sentuhan pop yang dipadukan iringan string session. Mungkin nggak ya dipilih sebagai single selanjutnya?

'Ku Tak Percaya' punya lirik yang sangat dalam. Sentuhan pop dengan string yang menyenangkan telinga. Kita contek sedikit liriknya.

Kata-kata tak'kan pernah punya makna
Ketika hati tak bicara jangan kau berikan padaku
Mimpi-mimpi surgamu
Jangan kau tawarkan padamu, keindahan yang semu

Tanpa itu aku mampu.. menjalani hidupku
Dan kukatakan kepadamu kata hatiku
Ku tak percaya...

'Bird Song' pun tak ketinggalan. Lagu yang berbalut bahasa Inggris ini dibalut gitar akustik dengan nuansa ballad. Mellow dan disisipi iringan perkusi.

Lagu berbahasa Inggris lainnya yaitu 'Almost'. Lagu yang dibuka dengan iringan drum itu terdengar lebih jazzy. 'Senyumanmu' sedikit mengingatkan kita pada nuansa lagu 'Yogyakarta' milik Kla Project. Hanya nuansanya saja, karena musiknya terdengar jauh berbeda. Lagu ini meneduhkan dan menghangatkan.

Satu lagi yang unik dari album 'Lethologica' yaitu sampulnya. Mereka mengemas sampul album dalam banyak lembar "kehidupan". Ada lirik dengan gambar yang menceritakan makna si lagu tersebut. Sementara bagian depannya memperlihatkan para personel Letto yang tengah berjalan namun tampak atas.

Secara keseluruhan, album ini jauh berbeda dengan karya Letto sebelumnya. Menyejukkan dan membuat nyaman. Anda cukup duduk manis di sofa ditemani secangkir teh atau orang tercinta. Dan biarkan semua "terlelap".

Monday, February 16, 2009

Lethologica: Cetak Biru Letto

Yogyakarta memang merupakan kota dengan atmosfer yang sangat mendukung untuk berjalannya proses kreativitas, terutama di bidang seni. Terbukti beberapa band yang populer di kancah nasional saat ini merupakan hasil "didikan" kota itu. Sebut saja, Sheila on 7, Jikustik, Seventeen, The Rain, Shaggy Dog, Hello, dan juga Letto.

Mereka merupakan "anak-anak" Yogyakarta yang dianggap bisa menaklukkan telinga banyak pecinta musik Tanah Air. Letto, misalnya, menurut perusahaan rekaman yang menaungi mereka, mencetak angka penjualan album terbaru mereka, Lethologica, hingga menembus angka 50.000 keping dalam waktu beberapa hari saja sejak album itu dirilis.

Lethologica merupakan album ketiga Letto--Noe (vokal), Pathub (gitar), Arian (bas), dan Dedy (drum). Sajian mereka terdengar matang. Bisa dibilang, mereka telah menancapkan cetak biru musik mereka, sehingga orang-orang mengenali bahwa suguhan mereka, dari musik hingga setting sound yang terdengar, identik dengan Letto. Pop yang beraroma rock, folk, jazz, dan sesekali diberi bumbu etnik, dengan barisan lirik yang filosofis dan sarat makna, terkadang menyentuh wilayah religius dengan pekat.

Daya magis album ini bertambah dengan campur tangan duo produser musik bertangan dingin yang juga sukses turut mengorbitkan Peterpan, Nidji serta d'Masiv: Noey dan Capung "Java Jive".

Single pertama mereka, Lubang di Hati, merupakan tipikal lagu pertanyaan yang biasa ditanyakan oleh hampir semua manusia. Tentang pencarian manusia akan sesuatu yang dapat melengkapi hati mereka, itu bisa cinta, itu bisa cita-cita, itu bisa seseorang, ujar penggalan liriknya. Aransemen musiknya dibuat dengan sangat membumi, cocok dipasang oleh anak-anak gunung yang sedang berusaha menaklukkan puncak gunung.

Setelah Lubang di Hati, yang dipasang di track pertama, Lagu Senyumanmu menyusul dengan anggunnya di track kedua. Lagu ini terdengar sangat Yogyakarta. Sebab, Sheila on 7 dan Jikustik juga sangat mungkin membuat lagu dengan pola serupa lagu ini. Lagi-lagi gaya aransemen yang membumi dan mengalir menjadi andalan Letto. Jika lagu ini dipasang sebagai single kedua dan menjadi hit besar, sangat mungkin para pengamen yang berusaha mengais rezeki di jalanan akan memasukkan lagu ini ke dalam daftar lagu mereka.

Hit besar mereka, Ruang Rindu, yang ada dalam album pertama, agaknya menginspirasi mereka untuk membuat lagu dengan model serupa, Kepada Hati Itu. Lagu ini sangat berpotensi menjadi hit karena melodi dan lirik macam inilah yang menjadikan Letto band Indonesia yang layak diperhitungkan.

Ku Tak Percaya, yang ada di track ketujuh, juga patut diperhitungkan untuk menjadi single berikutnya. Lagu ini akan terdengar menonjol jika diputar di radio dan cepat melekat di kepala. Lagu ini merefleksikan kekecewaan seseorang kepada orang yang mereka cinta dan sedikit membawa emosi kemarahan.

Letto berusaha menjelma menjadi Dewa Budjana atau Tohpati ketika memainkan nomor instrumental Lethologica. Di sini tertangkap kematangan musikalitas para personel Letto. Komposisi, melodi serta aransemen yang rumit mereka perlihatkan di sini. Tak hanya itu, mereka juga menghiasi lagu ini dengan bebunyian alat musik etnik. Mungkin ini merupakan lagu paling keras dalam album Lethologica, karena anda tak akan menemukan lagu yang bertempo lebih cepat dan lebih distorsif ketimbang lagu ini.

Dua belas lagu yang terserak dalam album terbaru Letto ini memiliki kekuatan tersendiri. Letto sengaja meletakkan nyawa dan rasa yang berbeda-beda pada setiap lagu. Ini bukan merupakan album yang memiliki benang merah antarlagu. Setiap lagu memiliki kesan, makna, serta nyawa tersendiri. (Adhika Prasetya/Kompas TV)

Sunday, January 25, 2009

Memberi Makna Setiap Lagu

Judul: Lethologica
Penyanyi: Grup Letto

Produksi: Musica Studio’s

Review: Kompas

Hampir semua lirik di album ketiga Letto ini adalah stok lama, atau sejak lama telah ditulis oleh Noe, vokalis Letto. Noe ini memang gemar membikin syair dan lirik lagu, yang merupakan bentuk pengamatannya terhadap alam di sekelilingnya.

Beberapa kalimat mengandung metafora, yang kemudian bisa ditafsirkan macam-macam. Bahkan, lagu ”Sebelum Cahaya” yang ada di album kedua, Don’t Make Me Sad, masih ditafsirkan orang setelah delapan bulan album beredar. Seperti dikatakan Noe, orang itu menafsirkan ”Sebelum Cahaya” sebagai shalat malam (tahajud).

Begitulah lirik menjadi kekuatan bagi Letto, yang berawak Noe (vokal, keyboard), Patub (gitar), Arian (bas), dan Dedy (drum). Kekuatan lain adalah lagu yang enak didengar dan gampang ditirukan. Dipadu dengan sound gitar yang nge-blues, musik Letto terdengar makin khas. Letto pun menyerap berbagai kemungkinan pengembangan teknologi yang diinternalisasi ke dalam aransemen musik. ”Kami mencoba seenak mungkin. Kalau tidak enak, ya kami tidak pakai,” tukas Noe.

Ada 12 lagu dalam album ketiga ini, dengan single hit ”Lubang di Hati”.

Produser Eksekutif Musica Studio’s Indrawati Widjaja mengatakan, sejak beredar 8 Januari 2009 hingga pekan ini, album ini sudah terjual lebih dari 50.000 keping. Letto hadir dengan konsep: mereka memberi makna pada setiap lagu.

Monday, January 19, 2009

Yang Unik Dari Single Lethologica



lethologica
by: letto

[a word for when a word loses meaning. there is a word that explains the effect of saying a word repeatedly until it loses its meaning. what is that word? i know i've heard it, but can never remember it]

salah satu lagu yang unik dan menarik dari album ketiga letto ini diberi nama sesuai judul albumnya 'lethologica', lagu tanpa lirik kecuali lengkingan penggalan kata 'lethologica' yang berulang menjadikan single ini melawan pasar alias permainan musik eksperimental khas letto sesungguhnya, ada paduan sayatan gitar patub dan lengkingan noe serta kombinasi unik drum dedy & bas milik arian. banyak perpaduan unsur etnik yang muncul di sini misalnya musik tanah minang. meski sepintas kadang rasa musik jazz fushion di era karimata atau krakatau dahulu kala. musik eksperimental dipadu musik etnis ini seringkali dibawakan letto pada saat pentas membawakan lagu hitsnya diaransemen ulang dengan paduan musik etnis seperti minang, bali, jawa bahkan musik khas dari china.

penasaran dengan single lethologica ini? simak aja di: LETTOpages

Tuesday, April 18, 2006

Album Truth, Cry and Lie - Letto: Dari Kompilasi Ke Album Perdana

Tampaknya Letto akan mengulang kisah sukses Peterpan, Padi dan Cokelat.
Berawal dari album Kompilasi Pilih 2004, kini Letto telah merilis album perdana, ‘Truth, Cry and Lie’.
Janjinya sih album ini menyajikan musiknya enak di kuping, nyaman di hati, namun juga bukan asal bunyi.

Sebelumnya mari kenalan dengan Letto. Band asal Jogja ini digawangi oleh Noe (Vokal), Patub (Guitar), Dedi (Drum, perkusi), dan Arian (Bass).
Di album perdana ini, Noe menciptakan seluruh lagu-lagunya.
Menariknya, ada beberapa lagu ditulis dengan bahasa Inggris.

Single ‘Truth, Cry and Lie’ diletakkan di track awal.
Pilihan bagus, soalnya lagu ini enak banget.
Nilai plus, liriknya puitis, lafal Noe bagus, enggak asal Inggris aja.
Yang tak kalah menariknya tembang ‘Sampai Nanti, Sampai Mati’ yang menjadi hits single Letto.

Sandaran Hati’, lagu ini sangat mengharu biru buat para wanita yang mendengarkannya.
Andai saja pasangan anda berpikiran seperti lirik ini.
Simak pula dua lagu dengan lirik Inggris yang dibuat Letto, ‘U and I’ dan ‘I’ll Find My Way,”.

Beberapa lagu di album ini memasukkan unsur ‘sexy’ lewat akustik - ala Spanish – gitar, di antaranya ‘Insensitive’ dan ‘Ruang Rindu’.
Sedangkan untuk nuansa Disco, bisa disimak di tembang ‘No One Talk Bout Love Tonite’.
Satu lagi ‘Tak Bisa Biasa’, tembang ini cukup up beat lah dibandingkan ‘Sebenarnya Cinta’.

Diluar kekuatan lirik, Musik Letto sangat nyaman ditelinga.
Wajar saja bila terlintas “Kok mirip ini-itu,” namun nyawa lagu itu teteup dipegang Noe.
Ya vokalis satu ini punya vocal melankolis tapi enggak cengeng.
Overall, ini album bagus. Jika ada kesamaan di kanan kiri, itu bisa dimaafkan.
Enggak percaya? mending dengerin sendiri deh.

(Sumber: Kafegaul)

Thursday, April 13, 2006

What's Up

SATU lagi grup musik asal Jogjakarta siap menggebrak pasar musik Indonesia.
Setelah Sheila On 7, Jikustik, kini giliran pendatang baru, LETTO, yang berformasikan Noe (vokal/kibor), Patub (gitar), Arian (bass), dan Dedi (drum).
Sebelumnya band yang bernaung di bawah bendera Musica Studio ini pernah masuk di album kompilasi Pilih 2004 dengan menyodorkan tembang berbahasa Inggris ’I'll Find Away’ yang mendapat sambutan cukup bagus.

Kini, mereka diberi kesempatan untuk merilis album utuh yang diberi title ”Truth, Cry, and Lie”.
Keliatannya bahasa Inggris menjadi dominan di album yang mengusung sweet-pop ini.
Tapi bukan berarti nggak menyisakan lagu berbahasa Indonesia.
Simak saja single pertamanya yang sudah diputar di radio bertajuk ’Sampai Nanti, Sampai Mati’.
Namun yang agak "aneh" mungkin, ketika menyimak satu demi satu single yang ada.
Ada campuran hard-rock lawas, tapi dipadu dengan komtemplasi ala Kitaro.

"...that's the truth behind the cries, that's the cries behind the lies..."
Ini dikutip dari salah satu lirik lagu Letto, yang sepertinya sangat setipe dengan Tahiti80s dengan Heart Beat-nya.
Kalau dilihat dari liriknya ini adalah sebuah kalimat yang bisa sedikit menampar hidup kita mungkin ya, sesaat setelah mendengarnya.
Kalau diartiin ke Indonesia kira-kira jadinya begini… ”kebenaran di balik tangis, tangisan di balik kebohongan”.

DULU, ketika LETTO Band masuk ke kompilasi PILIH 2004, sempat muncul pesimisme band ini bakal cepat masuk dapur rekaman.
Maklum saja, tahun itu adalah eranya Peterpan yang kebetulan satu label dengan band asal Jogjakarta ini.
Lagian siapa yang aware dengan single LETTO ’I’ll Find Away’.
Meski sempat mencuri dengar, tapi lagu tersebut tetep nggak bisa bikin kita aware sama LETTO.
Tapi mungkin kini, kita harus mengubah ‘sinisme’ itu.
LETTO akhirnya tetap merilis album utuh yang herannya, sebenarnya lebih bagus dibanding band-band yang sekarang sedang digandrungi.
Sayangnya juga, LETTO sendiri ternyata tak “jual diri” sebelumnya.
Nggak kaget, kalau musisi-musisi Jogja sendiri “kebingungan” ketika ada band dari daerahnya yang merilis album nasional.
Wajar saja tampaknya, karena meski kini ngeband, mereka tumbuh dalam lingkungan teater yang kuat dengan gamelan.

Uniknya, mimpi mereka adalah "mengawinkan" nada-nada pentatonik gamelan dengan musik modern.
Hasilnya? Ya musik LETTO ’Sampai Nanti, Sampai Mati’.
Lagu ini menarik dari lagu-lagu band Jogja ini.
Mereka mengemas lagu-lagunya dengan nada pelog dan Slendro ala gamelan jawa tapi dalam kemasan musik kekinian.
Dari segi lirik memang ringan sekali, tapi kalau bener-bener dimaknai, mereka hebat bisa bikin lirik sederhana yang cepat menancap di hati.
Lagu yang kerap bisa bikin semangat ini memang bikin kita sedikit mikir kalau di dunia ini banyak orang yang pernah takut mati, patah hati, banyaknya sial yang datang dan pergi, tapi tentu aja kalau ada semangat semua bakal mudah dihadapi..makanya semangat itu nggak boleh mati sampai nanti sampai mati. Begituuuu…

Selain lagu ’Sampai Nanti, Sampai Mati’ di track ke-2, album ”Truth, Cry And Lie” ini dibuka dengan track1 yang berjudul sama dengan judul album LETTO ini, lalu di track ke-3 ada ’Sandaran Hati’, kemudian track ke-4 ada ’Sebenarnya Cinta’ dan track ke-5 ada ’U & I’. Tottaly ada 10 track.
’Tak Bisa Biasa’ di taruh di track ke-6, track ke-7 ada ’Insensitive’ lalu di tack ke-8 ’No One Talk About Love Tonite’, lalu track ke-9 ada ’Ruang Rindu’ ditutup sama ’I’ll Find A Way’ yang diletakkan di track ke-10.

Dari album ini yang benar-benar mencuri perhatian adalah ’Sampai Nanti, Sampai Mati’ serta ’Truth, Cry and Lie’.
Selanjutnya sepertinya harus sering-sering di simak dulu nih.
Seperti halnya Bujang Dare yang awalnya nggak terlalu ngeh sama ’Sampai, Nanti, Sampai Mati’.
Padahal kita dapetin single mereka di bulan November, tapi mulai banyak requestnya sekarang-sekarang ini…

(Sumber: Volare FM)

Friday, March 31, 2006

Letto: Hadirkan Slendro & Pelog

MUNCUL lagi satu grup musik asal Yogyakarta setelah Jikustik dan Sheila On 7, Letto. Grup yang diperkuat oleh Noe (vokal, keyboard), Patub (gitar), Arian (bas), dan Dedi (drum, perkusi) mengutamakan kebersamaan dalam memberi sesuatu yang berarti dalam bermusik. Arti itu yang coba disampaikan lewat album "Truth, Cry and Lie".

"Hal ini bukan sekadar tren dan gaya berbahasa Inggris jika separuh dari album ini hadir dalam bahasa internasional. Tapi yang jelas, proses kreativitas yang mengalir jujur," ungkap Letto yang diwakili Noe.

Dalam musik mereka pun terselip khazanah etnik yang menghadirkan corak slendro dan pelog dalam permainan instrumen band modern. Hasilnya, sebuah karakter musik yang jauh beda dengan grup lain.

Terutama pada lagu "Sampai Nanti, Sampai Mati" yang menjadi single pertama album ini. Liriknya sarat dengan pesan beraroma positif. Pengerjaan musik yang dibangun bersama-sama tak heran memberi pengaruh dalam setiap karya yang diberikan. Tidak hanya bicara soal hidup, cinta, tetapi juga bicara patah hati, persahabatan, dan bahkan tentang Tuhan.

Letto hadir awalnya melalui album kompilasi "Pilih 2004" lewat single "Ill Find A Way" yang dilepas Musica Studio's. Mereka selalu beda dengan yang lain. Berangkat dari pertemanan sewaktu satu SMA di Yogya. Lalu masuk kegiatan teater dengan pertimbangan jauh lebih murah dari pada dugem dan narkoba. Proses berteater ini kemudian berpengaruh dalam karya-karya Letto. Uniknya, tumbuh di lingkungan gamelan tapi dengan idola Queen, Yanni, atau Led Zeppelin yang "bermasalah". Misalnya dengan berani mereka memainkan "Bohemian Rhapsody" dengan slendro atau pelog. Dengan demikian proses kreativitas itu sungguh kaya sehingga lahirlah "musik puisi" dari Letto. (Mmt)***

(Sumber: Pikiran Rakyat)


Menghadirkan Corak Pelog & Slendro Dalam Format Musik Kekinian.

Caption: Letto terbentuk lantaran personelnya rajin kongko di sebuah studio musik.

Noe, yang putra Emha Ainun Nadjib ini melanjutkan, nama Letto didapatnya tanpa proses yang berbelit-belit. “Impulsif saja. Nama itu saya dapatkan ketika saya bangun tidur. Saya usulkan nama itu dan teman-teman setuju,” beber Noe lagi.

sebuah grup musik -- ­­­­­­­­­­­­­­selain punya personel -- pastilah punya nama. Buat banyak band, nama tak cuma sebagaiidentitas belaka, tapi punya arti dan filosofi tertentu. Grup musik Cokelat misalnya. Band asal Bandung ini memilih nama itu dengan harapan musiknya digemaribanyak orangseperti (makanan) cokelat.Grup musik yang tengah naik daun,Radja, memilih nama itu harapan bisa merajai dunia musiklokal. Samsons -- nama ini terinspirasi dari legenda Samsons -- juga demikian. Samsons kepengin jadi salah satuband paling kuat di negeri ini.

Tapi tak semua band mementingkan arti atau filosofi sebuah nama. Itulah yang dilakukan Noe (vokal, kibor), Patub (gitar), Arian (bas) dan Dedi (dram, perkusi) ketika memilih Letto sebagai nama band. Kalau belum tahu Letto, band ini penembang Sampai Nanti, Sampai Mati dan Sandaran Hati yang kini sedang ramai-ramainya diputar dibanyak radio. Buat band asal Yogyakartaini -- meminjam kalimat legendaris Shakespeare -- apalah arti sebuah nama? “Kami pilih Letto karena nama itu sama sekali nggak ada arti dan filosofiinya. Sengaja begitu biar nggak asumtif. Lagipula buat kami nama itu tak punya fungsi selain sekadar identitas,” ujar Noe.Noe, yang putra Emha Ainun Nadjib ini melanjutkan, nama Letto didapatnya tanpa proses yang berbelit-belit. “Impulsif saja. Nama itu saya dapatkan ketika saya bangun tidur. Saya usulkan nama itu dan teman-teman setuju,” beber Noe lagi.

Letto terbentuk lantaran personelnya rajin kongko di sebuah studio musik. “Kami ini teman satu SMA dan suka main musik. Suatu kali, kami dipercaya mengelola sebuah studio rekaman. Di kala studio sedang sepi, kami suka main musik dan bikin-bikin lagu. Dari studio itu kami belajar tentang audio dan teknik-teknik studio,” seru Arian. Sampai di sini belum ada niat serius bermusik. Niat serius baru muncul setelah didesak teman-teman mereka. “Teman-teman menyarankan kenapa nggak diseriusin saja lagu-lagu yang sudah jadi,” seru Arian lagi.

Entah bagaimana, rekaman lagu mereka sampai ke tangan Noey Java Jive. Noey adalah produser yang melejitkan Peterpan dan beberapa band lainnya. Lantaran tertarik Noey menawarkan mereka ikut album kompilasi Pilih 2004 keluaran perusahaan rekaman Musica Studio’s.Lagu mereka yang masuk di album itu bertajuk I’ll Find Away. Sayang, ketika diluncurkan lagu ini tak begitu populer. Publik tak ngeh dengan keberadaan mereka. Bahkan, sempat muncul pesimisme band ini bakal cepat masuk dapur rekaman. Maklum saja, ketika itu eranya Peterpan yang kebetulan berada satu label dengan Letto.

Nasib berkata lain. Musica meminta mereka membuat full album. “Entah apa alasannya Musica lalu meanawarkankami membuat album,” seru Noe lagi. Kolaborasi Musica dan Letto ini menghasilkan album yang diberi tajuk Truth, Cry and Lie. Album ini berisikan 10 tembang “Truth itu berarti kebenaran. Kebenaran itu titiknya jelasBegitu juga dengan lie. Nah, kalau cry itu saya menyebutnya titik ekstrimitas. Ia berada ditengah-tengah. Cry itu emosi di titik absolut kebenaran dan kesalahan. Kalau orang sedih banget, nangis, kalau senang banget juga nangis. Tiga hal ini yang menjadi tema keseluruhan album ini,” terang Noey berfilosofi. Bukan mengikutitren dan bermaksud gaya-gayaanbilaseparuh dari isi album ini liriknya ditulis dalambahasa Inggris. ''Ini (lirik -red) hasil proses kreativitas yang mengalir jujur,'' ungkap Noe. Semua lirik di album ini ditulis Noe. Sedangkan aransemen musiknya dikerjakan bersama-sama. Kata Noe lagi,sebagian besar lagu-lagunya terinspirasi dari pengalaman pribadi.

Ada yang menarik dari musik yang dimainkanLettoini. Mereka mengemas lagu-lagunya dengan nuansa etnik yang menghadirkan corak pelog dan Slendro a la gamelan Jawa tapi dalam format musik kekinian. Ini hal wajar. Maklummereka tumbuh dalam lingkungan teater yang kuat dengan gamelan Jawa. Alhasil, musik yang dihasilkanberbeda dengan kebanyakan band-band di negeri ini. “Tapi kata orang musik kami masih dikategorikan sebagai musik pop,” guman Patub. Keunikan lainnya pada suara Noe sengau berkarakter mellow yang kuat, namun tak berkesan cengeng. Bisa dibilang, karakter itulah yang menjadi kekuatan lagu-lagu Letto. Meski sering mengaku anak desa Noe punya lafal Inggris yang cukup bagus. Maklum, Noe ternyata pernah beberapa lama tinggal di Kanada.
Singel pertama yang dilepas Letto guna mencuri perhatian berjudul Sampai Nanti, Sampai Mati. Lagu ini simpel, judulnya sedikit nakal. Tempo lagunya medium dengan karakter pop yang jelas. Ada sedikit pengaruh brit-pop yang dominan di lagu ini. Lagu ini bisa dibilang tak lazim. Pasalnya, ada nada-nada pentatonis yang cukup unik.

Lirik Sampai Nanti, Sampai Mati, sangat multi interpretatif -- bisa ditafsirkan sebagai lirik cinta, patah hati, persahabatan bahkan tentang Tuhan -- dan sarat dengan pesan positif, tapi bukan mengkotbahi. Singel kedua berjudul Sandaran Hati. Lagu dengan tempo medium ini sangat klop dengan selera kuping penggemar musik lokal.. Satu-satunyakekurangan Letto di album ini adalah sound-nya yang terdengar sederhana.

(Sumber: Bintang Indonesia.com)


Resensi Album in RRI Online

Maklum saja, tahun itu adalah eranya Peterpan yang kebetulan satu label dengan band asal Jogjakarta ini. Lagian siapa yang aware dengan single LETTO I’ll Find Away. Meski sempat mencuri dengar, tapi lagu tersebut “tak benar-benar” menganggu.

Tapi mungkin kini, kita harus mengubah ‘sinisme’ itu. LETTO akhirnya tetap merilis album utuh yang herannya, sebenarnya lebih bagus dibanding band-band yang sekarang sedang digandrungi. Sayangnya juga, LETTO sendiri ternyata tak “jual diri” sebelumnya. Nggak kaget, kalau musisi-musisi Jogja sendiri “kebingungan” ketika ada band dari daerahnya yang [lagi-lagi] merilis album nasional.

Album perdananya seperti ‘sok-sokan’ lantaran menggunakan judul berbahasa Inggris Truth, Cry and Lie. Sesuatu yang sebenarnya makin biasa di dunia musik Indonesia. Tak cuma itu, separuh lagu dari 10 lagu yang ada, berbahasa Inggris. Hasilnya?

Sebenarnya LETTO termasuk mengejutkan secara materi. Single pertamanya Sampai Nanti, Sampai Mati ternyata bisa menggoda penikmat musik, meski masih ditengah dominasi pop manis lainnya. Lagu ini simpel, judulnya sedikit nakal. Tempo lagunya medium dengan karakter pop yang jelas. Hanya tampaknya pengaruh brit-pop dominan. Lagu ini mengingatkan penulis pada lagu-lagu milik grup Starsailor. Sebenarnya, lagu ini tak lazim. Ada nada-nada pentatonis yang cukup unik. Sebenanrya kalau dikulik lagi, akan lebih menarik. Tapi tampaknya LETTO tak mau terjebak pada pop-etnisitas.

Noe [vokal/kibor], Patub [gitar], Arian [bass], dan Dedi [drum] tampaknya cukup jeli mengemas konsep musiknya. Suara Noe sengau dengan karakter mellow yang cukup kuat. Secara “sembarangan” penulis mendengar karakter Keane Band, Tom Chaplin. Berlebihan? Mungkin saja, tapi karakter itulah yang menjadi kekuatan lagu-lagu LETTO. Coba simak track pembuka Truth, Cry, and Lie. Liriknya sebenarnya psychedelic. Tapi kita akan terkecoh dengan tarikan vokal Noe yang melankolik itu.

Kelebihan lainnya, Noe punya lafal Inggris yang cukup bagus. Meski sering mengaku “anak desa” ternyata Noe cukup lama ngendon di Kanada. Anak Emha Ainun Nadjib ini punya kelabihan vokal yang apik. Single yang tampaknya bakal mengharubiru adalah Sandaran Hati. Bakal single ke-2 ini punya intro yang langsung membuka warna vokal Noe. Masih tetap dengan tempo medium, lagu ini cocok dengan “kuping” Indonesia.

Sayangnya, semua kelebihan itu tidak langsung ditingkahi dengan sound yang apik. Kekurangan album ini adalah sound yang terlalu “sederhana”. Seandainya bisa lebih megah, kamu bisa tertipu mengira LETTO band britpop dari negeri seberang. Kelemahan lain yang perlu segera dibenahi, LETTO harus berani bermain-main dengan lirik yang sedikit nakal. 10 lagu nyaris seragam. Entah, kalau mereka memang memposisikan diri sebagai band “pengharubiru” saja. Kalau itu pilihan mereka, sayang sekali. Band ini punya potensi lebih.

(Sumber: RRI Online)


Thursday, March 30, 2006

Bunyi Slendro dan Pelog di Antara Lirik Inggris

Apalah arti sebuah nama? Falsafah itu dianut Letto, grup musik asal Yogyakarta. Nama tersebut tidak ada hubungan dengan Leto, istri Zeus dan ibu dari Apolo dan Artemis dalam mitologi Yunani. Bagi Noe (vokal, kibor), Patub (gitar), Arian (bas) dan Dedi (drum, perkusi), nama itu untuk identitas semata.

Hal yang terpenting adalah bagaimana mereka memberi sesuatu yang berarti di blantika musik Indonesia. Arti itu yang coba disampaikan lewat album debut Truth, Cry and Lie. Bukan sekadar tren dan gaya jika separuh dari isi album ini merupakan lagu-lagu berlirik bahasa Inggris. ''Ini adalah proses kreativitas yang mengalir jujur,'' ungkap Noe, saat ditemui Suara Merdeka di Musica Studio's kemarin.

Bahkan, dalam musik mereka terselip khasanah etnik yang menghadirkan corak slendro dan pelog dalam permainan instrumen modern. Hasilnya adalah karakter musik yang berbeda, namun tetap asyik dinikmati.

Simak saja lagu ''Sampai Nanti'' yang menjadi single pertama album ini. Lagu itu bertutur tentang sikap optimis menghadapi hidup. Liriknya sarat dengan pesan positif, tapi bukan kotbah. Sebab, gaya penyampaiannya tetap dalam tutur puitis. Tidak saja bicara tentang hidup, Tapi juga cinta, patah hati, persahabatan bahkan tentang Tuhan.

Demikian pula lagu ''Sandaran Hati'' yang liriknya jika disimak lebih jauh tidak saja berbicara tentang seorang kekasih, tapi juga sahabat bahkan Yang Maha Kuasa. Tak jauh beda dengan lagu ''I'll Find A Way'' yang percaya selalu ada jalan untuk menggapai angan. Lirik puitis tersebut, termasuk yang berbahasa Inggris, seluruhnya ditangani oleh Noe.

Pengalaman Pribadi

Menurut dia, inspirasi lirik itu mengalir secara spontan dan alami. ''Kami ini anak desa, tidak pernah berpikir yang muluk-muluk. Semua mengalir sesuai dengan kata batin,'' jelasnya.

Dia mengakui sebagian besar lagu-lagunya terinspirasi dari pengalaman pribadi. Sedangkan aransemen musiknya dikerjakan bersama-sama. Tak heran jika masing-masing memberi pengaruh dalam setiap lagu. Alhasil akan terasa sedikit ramuan dari rock ala Led Zeppelin, J-rock ala Kitaro, dan punk rock. Ramuan unik itu setelah berpadu terasa easy listening. Ditambah karakter vokal Noe yang melankolis namun tidak cengeng.

Konsep ''beda'' ini yang membuat Musica Studio's tertarik. Awalnya Letto diperkenalkan dalam album kompilasi Pilih 2004 lewat single ''I'll Find A Way''. ''Mereka menawarkan musik yang beda dari yang selama ini pernah ada di Musica,'' tutur Anasthasia Sadrach dari Musica Studio's.

Letto berawal dari sekumpulan pemuda yang pernah sama-sama duduk di bangku salah satu SMA di Yogyakarta. Saat itu, tidak pernah terbayangkan bila suatu saat mereka akan mencari modal kawin dari menjual lagu. Maklum, mereka memilih bercengkerama dalam sebuah kelompok teater dengan pertimbangan bahwa belajar teater jauh lebih murah ketimbang dugem atau narkoba. Proses berteater ini kemudian memberi pengaruh dalam karya musik mereka.

Uniknya, mereka tumbuh di lingkungan gamelan tapi mengidolakan grup Queen, Yanni dan Led Zeppelin. Karena itu, mereka ingin memainkan ''Bohemian Rhapsody'' dengan slendro atau pelog. Maka, proses kreatuf yang telah mereka lagukan menghasilkan sebuah konsep musik puitis.

''Banyak ekspresi yang terlihat ketika kami mementaskan hasilnya. Dari yang tersenyum menghargai sampai yang melotot dengan muka pucat. Tapi what ever-lah, that's not the point,'' kata Aldi yang merupakan behind the scene dudez Letto bersama Bedjat Miko. (tn-43)

(Sumber: Suara Merdeka)


Wednesday, March 29, 2006

Lirik Puitis Letto

Awalnya justru berteater.
Ketika kemudian muncul ide membuat sebuah grup band bernama Letto, para awaknya memutuskan untuk mengalir saja mengikuti irama zaman.
Ini sebuah band kecelakaan, kata mereka.
Dalam kurun waktu dua tahun sejak terbentuknya pada tahun 2004, grup band asal Yogyakarta ini sudah merekamkan sepuluh dari 29 lagu yang mereka cipta di dalam album Truth, Cry, and Lie produksi Musica Studio’s.


Ke depan, awak grup ini—Noe (vokal, kibor, synth, piano), Arian (bas), Agus Patub (gitar), dan Dedi (drum, perkusi)—tidak memiliki target apa pun.
Mereka hanya berharap, lagu dan musiknya bisa diterima masyarakat.
Letto tidak berarti apa-apa. What’s in a name, ungkapan yang pernah ditorehkan William Shakespeare dalam naskah dramanya Romeo and Juliet itu menginspirasi Noe dan kawan-kawan untuk mencari nama yang tidak punya makna.

Kata mereka, Letto tak ada kaitannya dengan Leto, istri Zeus dan ibu dari Apollo serta Artemis dalam mitologi Yunani.
Letto ya Letto, nama untuk identitas saja.

Jika dibilang band kecelakaan, barangkali ada benarnya.
Noe yang bernama asli Sabrang Mowo Damar Panuluh dan putra budayawan Emha Ainun Nadjib sejak SMA bersahabat dengan Arian dan Patub yang juga lahir dan besar di lingkungan yang akrab dengan musik dan gamelan.
Mereka aktif dalam teater dan kerap diminta membantu kelompok Kyai Kanjeng pimpinan Cak Nun ketika grup itu manggung.

Kami membantu mixing atau cek sound. Apa sajalah, pokoknya kami membantu,” kata Arian yang mahasiswa semester akhir Jurusan Administrasi Negara Universitas Gadjah Mada (UGM).
Pernah pada satu saat mau latihan, penyanyinya belum datang, maka Noe diminta menyanyi.
Ya sudah, saya nyanyi saja. Mau dibilang suara saya bagus, itu tergantung yang mendengar,” kata Noe yang lulusan Math and Physics University of Alberta ini merendah.
Patub yang lulus Ilmu Tanah UGM juga sama, kerap diminta membantu Kyai Kanjeng.

Ketiganya lalu mulai latihan nge-band di Geese, studio Kyai Kanjeng di Kadipiro Yogyakarta.
Lulus SMA, ketiganya berpisah dan bertemu lagi tahun 2003, saat Noe pulang ke Indonesia.
Dedi, si penabuh drum yang masih semester dua di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta kemudian bergabung.
Dari sanalah mereka mulai intens mengaransemen lagu.
Waktu senggang digunakan untuk mencipta lagu.
Semua liriknya Noe yang buat,” kata Arian.

Proses rekaman Letto cukup singkat. Satu lagu mereka, I’ll Find a Way, pernah tergabung dalam album kompilasi ”Pilih 2004”.
Mengapa kemudian Letto diajak rekaman satu album pada awal 2006 ini, Head of Radio & Print Promotion Musica Studio’s Dewi Rahmayati mengatakan, Letto menawarkan musik yang berbeda dari yang selama ini ada di Musica.
Album Truth, Cry, and Lie (kaset dan CD) kini sudah terjual 35.000 keping. Jadwal manggung Letto pun makin padat.
Tanggal 9-11 maret ini, Letto tampil di Solo, Yogyakarta, dan Semarang dalam acara Class Mild.
Lalu 19 Maret di Wajah Oriental Aneka Yess, 21 Maret di Extravaganza Trans TV, 24 Maret Star on TV di antv, dan masih panjang lagi daftar manggungnya.

Pengaruh musik Kyai Kanjeng sangat kental mewarnai musik Letto, dengan corak slendro dan pelog dalam permainan instrumen modern.
Dengan lagu dan lirik seperti Sandaran Hati, Sebenarnya Cinta, atau Ruang Rindu, pengaruh Kyai Kanjeng itu cukup terasa.
Meski begitu, pengaruh rock juga mewarnai lagu-lagu Letto, mulai dari rock Led Zeppelin, Deep Purple, hingga punk rock.
Warna rock yang cukup kental terdengar pada lagu Truth, Cry, and Lie , Tak Bisa Biasa, No One Talk About Love Tonite, bahkan Insensitive yang sangat slow dan mellow.
Dalam U and I dan I’ll Find a Way bahkan ada sentuhan jazznya.

Noe mengakui, banyak pengaruh yang mewarnai musik Letto.
Sewaktu membuat lagu, mereka belum memikirkan konsep musiknya.
Segalanya dibiarkan mengalir.
Jika ada yang usul diberi unsur rock atau jazz, tinggal dimasukkan saja.
Aliran kami sebenarnya adalah insya Allah pop,” kata Noe sambil tertawa.
Dengan musik gado-gado itu, Letto memang masih belum menemukan ciri khasnya.
Akan tetapi, bisa jadi justru ketiadaan ciri khas itulah yang menjadi kekhasannya dan memang unik. Untuk itu pun, Letto belum mau bertaruh.
Mlaku waelah. Aku malah bingung yen ditakoni konsep opo maneh target. Wong ndeso wae (Jalani sajalah. Aku justru bingung jika ditanya masalah konsep apalagi target. Orang desa saja),” kata Noe, yang diiyakan Arian, Patub, dan Dedi.

Kekuatan Letto sebenarnya justru pada lirik-lirik yang puitis yang disukai anak muda dan di beberapa bagian ”sedikit” kontemplatif.
Dalam Ruang Rindu, misalnya, Di daun yang ikut mengalir lembut/terbawa sungai ke ujung mata/dan aku mulai takut terbawa cinta/menghirup rindu yang sesakkan dada/jalanku hampa dan kusentuh dia/kupegang erat dan kuhalangi waktu/tak urung jua kulihatnya pergi...


Atau dalam Sandaran Hati. Yakinkah ku berdiri di hampa tanpa tepi/bolehkah aku mendengar-Mu/terkubur dalam emosi tanpa bisa bersembunyi/aku dan nafasku merindukan-Mu. Lagu ini berkisah tentang kerinduan dan kepasrahan kepada Tuhan.

Dalam membuat lirik, Noe juga mengalir saja mengikuti emosi jiwa.
Ketika mencipta lagu berbahasa Inggris, dia pun tidak bermaksud untuk menunjukkan kehebatan.
Kalau lagunya pasnya pakai bahasa Inggris, ya pakai lirik Inggris. Kalau tidak, ya Indonesia,” kilahnya.

Dinyanyikan Noe dengan suara soprannya yang sensual, lagu dan musik Letto bisalah mewarnai jagat musik band di Indonesia.
Serba mengalir, itulah Letto dari ndeso.

(Sumber: Susi Ivvaty, Kompas)


Saturday, March 25, 2006

Letto Mementahkan Sinisme

Dulu, ketika LETTO Band masuk ke kompilasi PILIH 2004, sempat muncul pesimisme band ini bakal cepat masuk dapur rekaman.
Maklum saja, tahun itu adalah eranya Peterpan yang kebetulan satu label dengan band asal Jogjakarta ini. Lagian siapa yang aware dengan single LETTO I’ll Find Away.
Meski sempat mencuri dengar, tapi lagu tersebut “tak benar-benar” menganggu.

Tapi mungkin kini, kita harus mengubah ‘sinisme’ itu. LETTO akhirnya tetap merilis album utuh yang herannya, sebenarnya lebih bagus dibanding band-band yang sekarang sedang digandrungi.
Sayangnya juga, LETTO sendiri ternyata tak “jual diri” sebelumnya.
Nggak kaget, kalau musisi-musisi Jogja sendiri “kebingungan” ketika ada band dari daerahnya yang [lagi-lagi] merilis album nasional.

Album perdananya seperti ‘sok-sokan’ lantaran menggunakan judul berbahasa Inggris Truth, Cry and Lie. Sesuatu yang sebenarnya makin biasa di dunia musik Indonesia.
Tak cuma itu, separuh lagu dari 10 lagu yang ada, berbahasa Inggris. Hasilnya?

Sebenarnya LETTO termasuk mengejutkan secara materi.
Single pertamanya Sampai Nanti, Sampai Mati ternyata bisa menggoda penikmat musik, meski masih ditengah dominasi pop manis lainnya.
Lagu ini simpel, judulnya sedikit nakal.
Tempo lagunya medium dengan karakter pop yang jelas.
Hanya tampaknya pengaruh brit-pop dominan.
Lagu ini mengingatkan penulis pada lagu-lagu milik grup Starsailor.
Sebenarnya, lagu ini tak lazim. Ada nada-nada pentatonis yang cukup unik.
Sebenanrya kalau dikulik lagi, akan lebih menarik.
Tapi tampaknya LETTO tak mau terjebak pada pop-etnisitas.

Noe [vokal/kibor], Patub [gitar], Arian [bass], dan Dedi [drum] tampaknya cukup jeli mengemas konsep musiknya.
Suara Noe sengau dengan karakter mellow yang cukup kuat.
Secara “sembarangan” penulis mendengar karakter Keane Band, Tom Chaplin. Berlebihan? Mungkin saja, tapi karakter itulah yang menjadi kekuatan lagu-lagu LETTO.
Coba simak track pembuka Truth, Cry, and Lie. Liriknya sebenarnya psychedelic.
Tapi kita akan terkecoh dengan tarikan vokal Noe yang melankolik itu.

Kelebihan lainnya, Noe punya lafal Inggris yang cukup bagus.
Meski sering mengaku “anak desa” ternyata Noe cukup lama ngendon di Kanada.
Anak Emha Ainun Nadjib ini punya kelabihan vokal yang apik.
Single yang tampaknya bakal mengharubiru adalah Sandaran Hati.
Bakal single ke-2 ini punya intro yang langsung membuka warna vokal Noe.
Masih tetap dengan tempo medium, lagu ini cocok dengan “kuping” Indonesia.

Sayangnya, semua kelebihan itu tidak langsung ditingkahi dengan sound yang apik.
Kekurangan album ini adalah sound yang terlalu “sederhana”.
Seandainya bisa lebih megah, kamu bisa tertipu mengira LETTO band britpop dari negeri seberang.
Kelemahan lain yang perlu segera dibenahi, LETTO harus berani bermain-main dengan lirik yang sedikit nakal. 10 lagu nyaris seragam.
Entah, kalau mereka memang memposisikan diri sebagai band “pengharubiru” saja.
Kalau itu pilihan mereka, sayang sekali. Band ini punya potensi lebih.

(resensi @ tembang.com)


Letto

Lagi seneng dengerin Letto, waktu pertama kali denger gue langsung sukaaa, sudah eneg dengan lagu-lagu nya peter pan, raja dan ratu, yang di puter dimana-mana yang jadi lagu wajib para pengamen, pas gue dengerin lagu-lagu nya Letto gue seperti mendapat udara segar.

Truth, Cry, and Lie adalah album pertama dari grup band asal Yogyakarta : Noe (vokal, kibor, synth, piano), Arian (bas), Agus Patub (gitar), dan Dedi (drum, perkusi)Dan album mereka ini sudah terjual 35.00 keping. Ada sepuluh lagu dalam album pertama mereka ini Side 1. Truth, Cry And Lie 2. Sampai Nanti, Sampai Nanti 3. Sandaran Hati 4. Sebenarnya Cinta 5. U & I Side 2 1. Tak Bisa Biasa 2. Insensitive 3. No One Talk About Love Tonite 4. Ruang Rindu 5. I'll Find A Way) Dan semua lagu-lagu itu gue suka.

Lagu-lagu letto sederhana, mengalir seperti air jadi gampang di nikmati tapi gak kacangan. Walau kaya dengan suara-suara alat music semua kedengaran pas, gak ada suara-suara tambahanyang bikin bising kuping. di tambah lagi suara vocalis nya yang bening. Kebeningan suara NEojelas banget di lagu ruang rindu. Lirik-lirik lagu mereka juga gak berat, bukan lirik yang mengharu biru tapi tetap terdengar romantis.

Sumber: http://jurnal-febi.blogspot.com/2006/03/letto.html